SOCIAL MEDIA

Friday, 20 November 2015

Pujian dan Cacian Hanyalah Efek Samping



Pujian dan cacian merupakan hal yang lumrah. Seringnya menjadi serius saat niat yang mengiringi setiap aktivitas kita tidak/kurang tepat. Niat yang lurus memang sangat menentukan dan saya sepakat dengan yang Bu Okina bilang, kondisi nol. 

Nol adalah ketika kita:
1. Sudah melakukan yang terbaik dan tidak terganggu oleh apa pun hasilnya.
2. Tidak merasa berkepentingan terhadap apa pun yang dibicarakan dan dipikirikan orang lain tentang kita.
3. Tidak perlu merasa hebat ketika berhasil atau menang.
4. Tidak terpuruk dan sedih berlarut-larut ketika gagal atau kalah.
5. Meletakkan pertarungan terbesar pada proses, bukan hasil.
6. Tidak merasa "lebih" daripada orang lain.
7. Percaya bahwa semua terjadi karena-Nya dan pengharapan terbesar kita adalah ridha-Nya.

Tidak mudah memang, namun bisa in sya Allah. Apalagi ada peluang bahwa niat bisa diperbaiki. Baik di awal, di tengah maupun di akhir. Seperti halnya sedekah, rejeki dan kesehatan adalah efek samping dari sedekah. Allah Maha Mengetahui apa yang paling kita butuhkan. Tugas kita hanya beribadah dan sedekah adalah bentuk rasa syukur kita. Semoga rejeki makin berkah. Tak perlu dipikirkan kapan si rejeki akan bertambah atau tubuh akan sehat kembali.

Begitu juga dengan pujian dan cacian. Jangan sampai membuat diri goyah. Hanyalah efek samping dari setiap yang kita lakukan. Ada atau tidak, menyakitkan atau membanggakan tidak berpengaruh. Contoh sederhana, saat ibu menyusui banyak tantangan yang dihadapi. Hanya karena badan yang tidak gemuk, bisa jadi bahan pujian karena tetap semangat menyusui. Namun bisa juga sebaliknya, jadi diragukan karena dianggap ASI yang akan diperoleh anak tidak akan cukup dan anak perlu tambahan susu formula. Luruskan niat selalu, ingat-ingat kembali tujuannya. Pertama dan utama karena Allah, in sya Allah hidup menjadi lebih nyaman, berkah dan bahagia.

2 comments :

Jazakumullah atas komentarnya ^_^