SOCIAL MEDIA

Thursday, 31 March 2016

Bahagia menjadi Ibu, menjadi Ibu Bahagia


Apakah orang yang bahagia, yang selalu terlihat ceria dan mudah senyum artinya tak pernah punya masalah?

Saat melihat seorang ibu memiliki banyak anak, namun tak sedikit pun keluar dari mulutnya keluh kesah, yang terbersit: "Wah jangan-jangan ibu ini hidupnya tanpa masalah...." Benarkah?


Menurut salah satu tokoh Psikologi Positif Carol D. Ryff, bahagia itu secara singkat adalah bukan orang yang sama sekali tidak pernah punya masalah, atau tidak pernah terbentur sesuatu. Bahagia adalah saat seseorang selalu bisa menilai sisi positif LEBIH BESAR daripada sisi negatif dari suatu kejadian.


Namun.. Berbagai peran yang dijalani ibu seringkali cenderung membuat ibu berpeluang melihat sisi negatif lebih besar dari sisi positifnya. Biasanya penyebabnya adalah adanya ketidakpuasan dan perasaan tidak menyenangkan, diantaranya:
1⃣ Kelelahan
2⃣ Perilaku Anak
3⃣ Ketidakharmonisan hubungan dengan suami/orangtua/mertua/lingkungan
4⃣ Kondisi ekonomi
5⃣ Kondisi iman yang sedang turun


Faktor-faktor yang Mempengaruhi kebahagiaan:

πŸ‘₯ Faktor Eksternal: penghasilan, pendidikan, kesehatan, status sosial

πŸ‘€Faktor Internal: kepribadian, nilai hidup, keyakinan yang terdapat pada diri individu

Mana yang paling besar andilnya terhadap kebahagiaan seseorang? 

Yup, faktor internal. Pribadi yang ceria, jarang mengeluh dan banyak memberi akan lebih mudah untuk bahagia. Nilai dan keyakinan berkaitan dengan norma agama. Agama membawa ke kehidupan yang lebih baik dan orang yang aktif menjalankan ibadah memiliki kesehatan mental yang lebih baik.


πŸ“ Tips n Trik Agar menjadi ibu bahagia:

πŸ‘ͺ Sabar dan Shalat
πŸ‘ͺ Rajin bersyukur
πŸ‘ͺ Positive Thinking
πŸ‘ͺ Mudah memaafkan
πŸ‘ͺ Rajin silaturrahim
πŸ‘ͺ Banyak memberi, berbagi dan menolong orang lain
πŸ‘ͺ Self Healing

"Kita hanya bisa memberikan apa yang kita miliki. Mana mungkin bisa memberikan kebahagiaan, jika kita tak merasa bahagia." ~ Ida S. Widayanti

Siap jadi ibu bahagia? 

Shona Vitrilia S.Psi

πŸ‘€FB: Shona Vitrilia
πŸ‘₯Fan Page: Ibu Bahagia
πŸ“· IG: @ibubahagia / @sekolahkudirumah
🌐 Web: www.IbuBahagia.com
πŸ“© Email: akuibubahagia@gmail.com

**Materi Kulwap di Group Institut Ibu Profesional Bandung, 15 Desember 2015

Tuesday, 29 March 2016

Apakah Anda Seorang Ibu Bahagia?



Mungkin sejak akun Instagram, Fan Page dan web ini launching, ada yang bertanya-tanya... Apakah saya seorang ibu bahagia? Sudah bahagiakah saya? Apa tujuan dibalik ibu bahagia ini ada? 

Sangatlah wajar, mungkin jika saya di posisi pembaca pun akan memikirkan hal yang sama. Siapa elo? Hehe.... Apalagi saat ini istilah "pencitraan" lagi anget-angetnya.

Semua ini bermula dari lika liku dalam hidup saya. Dan saya akan mencoba menjawab pertanyaan di atas satu per satu. Silahkan disimak *Emang ada yang baca? :p

Apakah saya seorang ibu bahagia?

Alhamdulillah saya saat ini sangat bahagia. Meski sebagai manusia biasa pasti pada kondisi-kondisi tertentu, saya juga merasakan perasaan sedih, kecewa, marah, benci, kesal, dongkol, dan berbagai macam perasaan tidak menyenangkan lainnya. 


Inilah 5 Dampak Sulit Memaafkan Bagi Kesehatan


Gambar: google

Banyak hal dapat terjadi saat kita sebagai manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Salah satunya konflik. Saat konflik desktruktif hadir, biasanya ada pihak yang tersakiti dan menyakiti. Dan menjadi sesuatu yang tidak mudah ya bu, jika hati sudah tersakiti, lalu segera bisa memaafkan.

Padahal saat membawa beban perasaan tidak menyenangkan itu selama berjam-jam, berhari-hari, apalagi hingga bertahun-tahun, tentu bukanlah suatu hal yang membahagiakan. Ibarat sebuah botol minuman yang berisi air, saat kita memegang selama beberapa menit mungkin tidak masalah, tapi jika kita memegang botol itu terus menerus berjam berhari berbulan dan bertahun-tahun, kuatkah?

Penting bagi kita untuk mengetahui dampak sulitnya memaafkan bagi kesehatan. Karena pada dasarnya tubuh kita memiliki ambang batas. Jika terus-menerus dalam perasaan dan kondisi yang tidak menyenangkan (stres), tubuh bisa mengalami kelelahan dan imunitas tubuh pun melemah sehingga rentan terhadap berbagai macam penyakit. Inilah 5 Dampak sulitnya memaafkaan bagi kesehatan:
  • Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak kepada penurunan fungsi kekebalan tubuh.
  • Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktivitas otak orang yang sama halnya dengan kondisi orang yang sedang stres, marah, dan melakukan penyerangan (agresif).
  • Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormon emosi negatif yang terkait dengan keadaan stres.
  • Sikap tidak memaafkan cenderung mengarah pada tingkat kekentalan darah yang lebih tinggi.
  • Sikap tidak memaafkan memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi, dan tekanan darah lebih tinggi.
Tidak mudah memang, apalagi jika yang menyakiti merasa tidak bersalah. Mengharapkan perubahan perilaku pada orang lain hanya akan menimbulkan frustasi. Sementara kesehatan adalah amanah dari Allah. Cobalah setiap kali akan tidur, maafkan setiap kesalahan orang lain pada kita. Jangan sampai mengidap penyakit kronis dahulu baru kemudian sadar akan pentingnya memaafkan. Selamat menjadi pribadi yang pemaaf dan sehat plus bahagia selalu!

Monday, 28 March 2016

Duo Shalihah


Alhamdulillah momen shalat berjama'ah merupakan momen yang kami tunggu-tunggu. Melihat antusias si bungsu setiap kali melihat umminya menyiapkan sajadah dan memakai mukenah, ia pun langsung berkata, "Echa jugaaak.. Echa jugaak.." Berulang-ulang hingga Ummi menyahut, "Iya sebentar ya Sholehah.." Senyum tak pernah lepas dari wajah ini, Alhamdulillah.

Lain lagi dengan si kakak yang sepertinya cenderung kinestetik. Kalau diajak berjama'ah ga pernah betah sampe sholat berakhir. Seringnya malah gangguin ummi sama adeknya. Yang terkadang si adek yang biasanya tuntas ikut sholat sampe akhir, jadi ikutan ke sana ke mari, xixixi....