SOCIAL MEDIA

Tuesday, 31 May 2016

Chapter 1: Bahagia di Rumah bersama Ibu Bahagia



Sadar nggak sih Bu, saat keseharian kita penuh keluhan, minus senyuman, bawaan ke anak sangar berlebihan, ke suami ngambekan, tugas rumah puluhan. Pengennya teriak, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Itulah yang pernah saya alami dulu *malu. Hingga penyakit pun tertarik mampir ke tubuh orang-orang yang tak bahagia *nunjuk diri. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah saat ini dengan yakin saya berkata bahwa saya adalah seorang ibu bahagia. Dengan sederetan pengalaman yang pernah saya alami dulu, saya ingin sedikit berbagi cerita.



Tuesday, 24 May 2016

Punya Penyakit Maag? Mungkin Inilah Penyebabnya

Gambar: google


Tadi pagi saya nonton di salah satu stasiun televisi, tentang hubungan antara penyakit dengan akhlak. Siapa lagi kalau bukan Ustadz Dhanu yang jadi narasumbernya. Saya yang punya penyakit asam lambung langsung melek. Pas banget bintang tamunya punya penyakit maag.

Dijelaskanlah oleh Ustadz Dhanu bahwa penyakit maag, mual, muntah, perih disebabkan karena:
  • Perilaku suka ngeyel (membantah)
  • Sering marah dan menolak bila dinasehati pasangan
  • Gampang jengkel dalam keluarga
  • Tidak suka menerima nasehat orang lain terutama dalam keluarga.

Monday, 23 May 2016

Manfaat Buah Melon Bagi Ibu Hamil


Hadeeeeuh.... Baru juga kepengen en ngebayangin tapi udah ngeceees wae hehe. Lagi kepengen yang manis-manis euy. Salah satunya yang keinget buah melon. Pernah liat di salah satu Rumah Sakit, bahwa manfaat buah melon bagi ibu hamil itu sangat banyak tapi lupa nyatet, wkwkw.... Nah saya coba googling, berikut beberapa manfaat dari buah melon bagi ibu dan janin:

Sunday, 22 May 2016

Si Positif yang Harus Tetap Positif


Alhamdulillah postif hamil anak ketiga. Yippie! Ngarep laki, karena si Abi kepengen ada jagoan biar bisa bareng-bareng jadi pejuang subuh. Meski... sempet rada khawatir karena kondisi kesehatan saya yang belum bisa bebas makan karena masalah asam lambung, tapi bismillah. Nikmatnya saat diprogramin sama Allah. 

Saturday, 21 May 2016

Jauh di Mata Namun Dekat di Hati

Entah sudah ke berapa kali, saya bertanya ini itu kepada Emak yang satu ini. Dominan soal dunia perbloheran *Jangan bosen ya Mak! Hoho.... Saat saya bertanya, di jawab dengan link-link daging sehingga terjawablah sudah pertanyaan-pertanyaan saya dengan sempurna. Jazakillah Mak!




Awal perkenalan kami saat di Pekanbaru, Riau. Sama-sama mewakili Forum Lingkar Pena daerah masing-masing guna mengikuti Training for Trainer Forum Lingkar Pena Se-Sumatera Bagian Utara (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau).

Selanjutnya kami bertemu sebentar di Padang lalu bertemu lagi di Medan. Masih ingat saat di Medan, saya ga minta diajak jalan-jalan tapi malah minta tolong temenin ke toko buku, wkwkwk... lalu setelahnya lanjut ke Rumah Cahaya FLP SUMUT. Momen-momen manis yang takkan terlupakan.

Sekarang, meski jarak memisahkan kami, Alhamdulillah masih sering say hello-an. Apalagi sesama blogger dan Zee duluan ahli dibanding saya. Jadi ya memang nasib dikau Mak, daku tanya-tanya, haha. Penasaran dengan blognya silahkan berkunjung, alamat blognya www.nufazee.com.

Friday, 20 May 2016

Menumbuhkan Kepatuhan Agar Anak Taat Aturan




"Streeess, udah sebulan lebih anak saya enggak tidur siang, padahal masih batita. Kenapa ya? Udah nyoba cara ini itu tapi belum berhasil."

"Fatih kecanduan games. Enggak mau banget dengerin kata-kata saya. Udah diming-imingin hadiah tetep aja ga berubah."

Dua kasus di atas sedikit contoh yang dialami orang tua. Masih banyak perilaku lainnya yang membuat orang tua kelimpungan. Lantas adakah cara agar anak mau bekerjasama, patuh dan taat terhadap aturan yang orang tua buat? Mari disimak.
1. Qaulan tsaqila. Menumbuhkan wibawa orang tua, Islam menawarkan sebuah resep mutakhir:
“Bangunlah di malam hari (untuk shalat), kecuali sedikit (dari padanya), setengahnya atau kurangilah sedikit dari padanya, atau lebihkan dari padanya dan bacalah Al-Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu ‘qaulan tsaqila.”(Q.S. Al-Muzzammil 2-5).
Ayah dan Ibu yang memiliki qaulan tsaqila ini seharusnya tidak menemui kesukaran dalam memberi perintah kepada anak-anak karena wajah mereka akan memancarkan cahaya bekas sujud di malam hari dan ucapan mereka akan penuh wibawa dan pesona.
2. Menanamkan kewajiban taat tidak hanya pada orang tua, tapi juga hubungkan dengan ketaatan kepada Allah swt. Ini akan membuat anak terbiasa melakukan perintah, baik saat orangtua ada atau tidak, karena ia punya rasa taat kepada Allah swt., yang selalu mengetahui perbuatannya.
3. Penjelasan yang bisa dimengerti. Beri penjelasan ringan dan jangan sekali-kali memberi keterangan dusta. Misal, “Kalau Fatih keseringan main games, nanti ga punya teman lho!” Jangan berkata, “Kalau keseringan main games, nanti ada hantu yang tiba-tiba muncul dari gadgetnya lho!” Jika awalnya anak bisa menjadi patuh karena belum tahu, sebaliknya setelah terbiasa dibohongi, akan kehilangan kepercayaan terhadap orang tuanya.
4. Sebatas Kemampuan Anak. Jika ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi sesuai dengan tahap usia perkembangan anak. Misal menyuruh anak shalat. Masih dalam usia belajarkah. Kapan shalat menjadi wajib baginya.
5. Pemberian Masa Terbatas. Anak akan merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte. Misalkan diberi perintah, “Maghrib hari ini jam setengah enam. Sekarang sudah jam lima, terserah kamu kapan berhenti main, yang penting saat adzan nanti kamu sudah selesai mandi.”
6. Ketegasan. In sya Allah, dengan ketegasan orang tua bisa hemat energi, hemat emosi. Dan jika tegas dari awal, kita akan terhindar dari melakukan kekerasan pada anak. Perlu digaris bawahi, bahwa tegas dan keras adalah dua hal yang berbeda. Ketegasan ditentukan dari kekonsistenan antara perkataan dan perbuatan kita. Jangan menerapkan perubahan aturan tanpa pertimbangan matang. Misalnya suatu saat orang tua melarang anak pergi bermain karena belum tidur siang, tetapi di lain waktu mengabaikan kembali larangan tersebut.
7. Istiqomah
Percaya atau tidak, jika kita istiqomah dengan keputusan yang kita buat, In sya Allah anak akan bersedia diajak bekerjasama. Usahakan tidak meladeni kemauan anak selama tak ada alasan yang bisa ditolerir.

Shona Vitrilia

*Dimuat di http://ummi-online.com/menumbuhkan-kepatuhan-agar-anak-taat-aturan.html

Thursday, 19 May 2016

Anak kecil di dalam Tubuh Orang Dewasa





Apakabar hidup anak kecil yang hidup dalam tubuh orang dewasa?

Mungkin saat dewasa kadang-kadang anak kecil itu bisa menahan, mengontrol, mengatur di saat mereka 'waras.'

Namun, saat di masa kecil yang sebenarnya, hingga dimana ia mampu menahan, mengontrol dan mengatur apa-apa yang ia terima?

Nostalgia

Saat mereka berjumpa, sang dewasa menyapa hangat sembari memeluk dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun, saat 'ketidakwarasan' menyapa, mereka sepakat bahwa yang menjadikan mereka seperti sekarang adalah musuh bersama.

Menyalahkan masa lalu. Salahkan! Salahkan!

Salahkan diri, salahkan si musuh bersama. Salahkan semua!

Tapi, sanggupkah mereka bersengkokol menyalahkan Tuhan?

Bandung, 19 Mei 2016

Wednesday, 18 May 2016

Orang Pinggiran



Sebagian orang mungkin tak memerlukan tv di rumah, sebagian yang lain menjadikan wajib tayang hampir 24 jam, dan sebagian yang lain menghidupkan tv dikala butuh. 

Saya adalah sebagian yang terakhir. Salah satu tayangan yang saya butuhkan adalah program tv Orang Pinggiran. Kadang aktivias sehari-hari membuat saya berfokus pada diri, hingga mungkin begitu mudah mengeluh.

Padahal di luar sana banyak yang lebih sulit dan lebih payah. Dengan melihat kisah-kisah mereka, agaknya membuat saya malu untuk mengeluh.

Dan Alhamdulillah menjadi sarana pula, mengajak si kakak untuk selalu bersyukur, betapa masih jauh lebih beruntungnya kami. Berikut soundtrack Orang Pinggiran yang pabila tayangannya telah habis, saya mendengarkannya dan kemudian berkaca-kaca.

Semoga next ada kesempatan menuliskan kisah-kisah mereka di sini.




Meski derita tak henti menerpa
Badai kehidupan yang datang menerjang
Ku takkan henti bertahan hingga nanti

Derita si kecil menyayat hati
Tangan yang lemah mencoba meraih
Mungkin suratan jadi orang pinggiran

Lihatlah dan bukalah mata hatimu
Melihatnya lemah terluka
Namun semangatnya takkan pernah pudar
Hingga Tuhan kan berikan jalan

Kala manusia tak lagi kuasa
Bagai sebutir debu yang tak beradaya
Lihatlah kini kita begitu rapuh
Lihatlah dan bukalah mata hatimu

Melihatnya lemah terluka
Namun semangatnya takkan pernah pudar
Hingga Tuhan kan berikan jalan


Oooh lihatlah dan bukalah mata hatimu
Melihatnya lemah terluka
Namun semangatnya takkan pernah pudar
Hingga Tuhan kan berikan jalan

(Erry Band)






Tuesday, 17 May 2016

Tergila-gila Surga

Suatu malam saya mampir ke inbox Bu Ida S. Widayanti. Mengirim pesan tersebab rasa penasaran yang tertahan sejak awal Januari. Perihal tarif sebagai seorang pembicara. Sewaktu tim IPC menghubungi beliau untuk diminta sebagai pembicara dalam event milad, beliau bilang tak ada standar/penetapan tarif, hanya untuk transportasi beliau bilang sekian rupiah. Padahal dilihat dari background dan jam terbangnya, rasanya aneh masih ada manusia seperti Bu Ida di jaman sekarang. Lantas apa pasal?




Beliau menjawab pertanyaan saya,

"Saya dan suami komitmen setiap yang kami lakukan tidak perlu semuanya di bayar di dunia.. itu saja semoga jadi bekal saat saya pulang nanti...."

Dan dengan sebuah puisi yang menghentakkan hati saya. Tak hanya soal menyoal tarif sebagai seorang pembicara, tapi juga dalam berbagai hal dalam lini kehidupan yang sudah sepatutnya kita renungkan.

Tergila-gila Surga
Oleh: Bu Ida S. Widayanti


Pernahkah engkau tergila-gila surga? 
Hingga kemilau dunia pun redup di matamu 
Hingga senyum senantiasa menyertai detik mu 
Hingga tak ada satupun keluh bersama harimu 
Pernahkah surga seakan nyata di matamu 
Hingga masalah duniamu kau rasakan terlampau kecil 
Hingga pundakmu terlalu lebar untuk pikul beban mu 
Hingga tenagamu terlalu besar tuk selesaikan tugas  
Pernahkah kau mabuk dengan surga? 
Hingga wajahmu lekat di sujudmu 
Hingga kau nikmati panjang doamu 
Hingga matamu tak dapat terpejam di ujung malam  
Pernahkah engkau begitu merindukan surga? 
Hingga umurmu kau rasakan terlalu panjang untuk segera menikmatinya 
Karena engkau yakin di sanalah akan bertemu dengan kekasih Abadi  


Jakarta, 17 November 2007

Saya hanya bisa terdiam. Benar, dunia hanya persinggahan sementara. Jika kita tergila-gila terhadap suatu barang/hal/impian kita akan berupaya berikhtiar dan berdoa agar menjadi kenyataan. Adakah hal yang sama kita lakukan, sudahkah kita tergila-gila surga dan tergila-gila bertemu Allah dan Rasul-Nya?

Monday, 16 May 2016

Beban Menjadi Seorang Founder

Bandung sejuk pagi ini. Hujan gerimis terdengar syahdu. Sesyahdu hati saya yang akhir-akhir ini sering berkaca-kaca. Mana kala mengingat beban yang saya pikul sebagai seorang Founder Islamic Parenting Community. Saya bukanlah Bu Septi (Founder Institut Ibu Profesional) yang luar biasa dan telah selesai dengan dirinya. Saya bukan juga Bu Ida (Founder HomeSchooling Muslim Nusantara) yang siap sedia kala menjawab pertanyaan dari member tersebab segudang pengalaman yang ia punya.

Pernah suatu kali, saat saya sedang mengerjakan sebuah project buku, seorang teman mengungkapkan sebuah peryataan dan pertanyaan yang intinya, saya memiliki member lebih dari 1.000 orang namun tidak semua member mengenal saya. Deg! Apakah saya kaget tersebab pernyataannya bahwa tidak semua member mengenal saya? Bukan Alhamdulillah. Saya kaget mengingat-ingat, apakah itu tujuan saya mendirikan IPC? Agar dikenal dan terkenal?

Pernah juga saat kami manajemen IPC sedang berbincang-bincang di group WA. Pertanyaan dari seorang yang sudah saya anggap kakak, "Masa di IPC-sekian ada yang nanya, Uni Shona itu siapa?" Lalu saya menjawab, "Ga papa Mba, ga dikenal penduduk bumi juga, saya mah maunya dikenal penduduk langit, aamiin." Saya tak menampik, adakalanya perasaan ingin dikenal itu hadir. Tapi saya selalu berusaha dan berdo'a agar Allah menjaga hati saya. Pabila niat saya melenceng, minta agar Allah tegur saya segera.

Saya. Bukanlah seperti Founder-founder lainnya. Saya baru akan berusia 29 tahun. Baru memiliki 2 anak dengan usia 2 dan 3 tahun. Masih belajar tentang Islamic Parenting. Masih banyak PR yang harus saya selesaikan di rumah. Banyak memiliki daftar kesalahan dan dosa dan belum bisa menjadi teladan. Masihkah Anda tertarik dengan IPC? Maaf jika saya jarang mampir, mudah-mudahan tak ada yang berpikiran bahwa saya seorang yang sombong. Hanya tersebab saya masih jauh dari pengalaman dan ilmu, maka lidah ini kelu. Maaf jika saya malah sering bertanya, bukannya menjawab.

Namun di tengah-tengah kekurangan itu, Alhamdulillah Maha Besar Allah. Allah tutupi segala kekurangan saya selama ini dengan mengirimkan saudara-saudara yang luar biasa. Hingga.... Sekarang IPC menjadi lebih baik. Jadi tak perlu khawatir, Anda aman bersama IPC ^_^

Wah, hujan kian deras Alhamdulillah. Allahumma shoyyiban nafi'an'. Hm.... akhir-akhir ini saya muhasabah dan merenung, terfikir untuk mengundurkan diri saja sebagai Founder dan Divisi Danus IPC. Hehe.... Ada gitu ya dan bisa gitu ya Founder mengundurkan diri? Adalah beban bagi saya menjadi Founder. Ada hal yang lebih utama yang harus saya selesaikan. Tak cukup anak yang sudah bisa menghafal do'a-do'a dan beberapa ayat Al-Qur'an. Tak cukup anak yang ikut antusias membaca Al-Qur'an meski yang dibaca masih sembarangan dan asal. Tak cukup anak yang semangat ikut sholat disaat umminya sholat. Masih banyak, banyaaaaaak sekali yang perlu saya benahi T_T

Maka.... ijinkan saya undur diri :) dan Bismillah... saya percayakan gelar founder kepada 10 Pejuang Mana Fam; Teh Thasya, Mba Ning, Bumay, Echa, Mba Ica, Sari, Mba Lilik, Bebes, Mba Niken dan Tika . Karena melalui merekalah atas izin Allah IPC bisa seperti sekarang. Maaf atas segala khilaf selama ini dan jazakumullah atas kesabaran teman-teman selama ini. *Kecup & peluk sayang dari saya Shona Vitrilia ^_^

Sunday, 15 May 2016

Edisi Ummi Belajar Public Speaking, Lagi


Ibu Bicara Ibu Berkarya itulah jargon dari Rumah Belajar Public Speaking Institut Ibu Profesional. Hari ini launching dan kelas perdana. Sembari saya bernostalgia dengan ruangan yang dulu bernama Audi Inspira. Tempat dimana saya menempa diri di dunia pertrainingan bersama Humanforce Team. Belajar dari gemeteran, jantung dag dig dug, keringat dingin dan terbata-bata hingga kemudian bisa maju mencicipi dunia MC & Co-Trainer. Tapi sekarang regresi lagi, wkwkwk.... Tersebab ilmu yang mengendap terlalu lama minus aplikasi.

Meski tubuh kurang enak dibawa jalan-jalan tapi Allahuma paksain hehe. Berhasil naik ojek dari rumah hingga ke lokasi bersama insya Allah 3 anak (satunya masih dalam perut, xixixi). Abinya anak-anak sedang ada kerjaan ke luar kota walhasil kami bertualang berempat saja.

Menyimak materi yang disampaikan oleh Febrianti Almeera alias Pepew membuat sensasi sensasi efek tri semester pertama tidak begitu terasa Alhamdulillah. Oia percaya ga percaya, Pepew adalah salah satu pembicara favorit saya.

Perdana mengenal sosoknya saat saya ngebazar di Hotel Banan Inn. sekitar tahun 2013. Namanya ngebazar, ya cuma di luar. Tapi ni orang kok keren banget ya?! Suaranya sayup-sayup sampai terdengar. Terdengar getol memainkan intonasi, mengaduk-aduk emosi peserta. Akhirnya saya pun penasaran lalu membeli buku perdananya "Be a Great Muslimah." Berlanjut add Facebooknya, follow Instagramnya, baca-baca blognya. Masya Allah, ternyata Pepew juga memiliki kekuatan di bidang menulis. Tulisannya menggugah dan menginspirasi, sampai ke hati.

Selanjutnya kami bertemu di Arisan Ibu Muda. Hanya sempat beberapa kali bertemu, karena saya melahirkan anak kedua dan disibukkan dengan aktivitas sebagai ibu dari 2 anak, sehingga saya jadi jarang datang. Sayang Pepew ga inget saya, wakakaka.... Loh kenapa jadi curhat ya? :p Intinya sih saya jadi naruh foto Pepew di daftar impian saya :D

Oke kembali ke topik, kehkeh... Jadi tadi saya kecipratan apa aja? Diantaranya bahwa sebagai seorang Public Speaker kita harus PD. Bukan percaya diri, tapi Percaya Dia (Allah). Percaya bahwa tak ada yang kebetulan. Untuk menunjang PD maka yang harus diperhatikan adalah:

1. Melakukan Persiapan:
- Walk the talk; menyampaikan yang sudah dilakukan (pribadi - istri - ibu terbaik). Hal yang disampaikan jika sebelumnya belum melakukan ibaratnya sesuatu yang "kosong."
- Siapkan pesan terbaik
- Siapkan penampilan terbaik ~ personal grooming

2. Menjaga Fokus
- Fokus pada keunggulan anda
- Mereka butuh anda
- Mereka teman lama anda

3. Mengambil Kesempatan

Lagi, ada rumus saat sampai di panggung adalah STB, Senyum Tatap Bicara. Dan Public Speaker dikatakan expert adalah ketika ia memiliki 10 ribu jam terbang dengan peningkatan setiap kali tampil.



Yup sekian hasil belajar hari ini. Terimakasih kepada pengurus RB PS IIP Bdg yang udah bikin RB kece ini dan terimakasih anak-anakku sayang, bisa kooperatif dan bikin hari ummi tambah seru. Siap semangat 10 bulan ke depan! Hooosssh!!