SOCIAL MEDIA

Friday, 20 May 2016

Menumbuhkan Kepatuhan Agar Anak Taat Aturan




"Streeess, udah sebulan lebih anak saya enggak tidur siang, padahal masih batita. Kenapa ya? Udah nyoba cara ini itu tapi belum berhasil."

"Fatih kecanduan games. Enggak mau banget dengerin kata-kata saya. Udah diming-imingin hadiah tetep aja ga berubah."

Dua kasus di atas sedikit contoh yang dialami orang tua. Masih banyak perilaku lainnya yang membuat orang tua kelimpungan. Lantas adakah cara agar anak mau bekerjasama, patuh dan taat terhadap aturan yang orang tua buat? Mari disimak.
1. Qaulan tsaqila. Menumbuhkan wibawa orang tua, Islam menawarkan sebuah resep mutakhir:
“Bangunlah di malam hari (untuk shalat), kecuali sedikit (dari padanya), setengahnya atau kurangilah sedikit dari padanya, atau lebihkan dari padanya dan bacalah Al-Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu ‘qaulan tsaqila.”(Q.S. Al-Muzzammil 2-5).
Ayah dan Ibu yang memiliki qaulan tsaqila ini seharusnya tidak menemui kesukaran dalam memberi perintah kepada anak-anak karena wajah mereka akan memancarkan cahaya bekas sujud di malam hari dan ucapan mereka akan penuh wibawa dan pesona.
2. Menanamkan kewajiban taat tidak hanya pada orang tua, tapi juga hubungkan dengan ketaatan kepada Allah swt. Ini akan membuat anak terbiasa melakukan perintah, baik saat orangtua ada atau tidak, karena ia punya rasa taat kepada Allah swt., yang selalu mengetahui perbuatannya.
3. Penjelasan yang bisa dimengerti. Beri penjelasan ringan dan jangan sekali-kali memberi keterangan dusta. Misal, “Kalau Fatih keseringan main games, nanti ga punya teman lho!” Jangan berkata, “Kalau keseringan main games, nanti ada hantu yang tiba-tiba muncul dari gadgetnya lho!” Jika awalnya anak bisa menjadi patuh karena belum tahu, sebaliknya setelah terbiasa dibohongi, akan kehilangan kepercayaan terhadap orang tuanya.
4. Sebatas Kemampuan Anak. Jika ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi sesuai dengan tahap usia perkembangan anak. Misal menyuruh anak shalat. Masih dalam usia belajarkah. Kapan shalat menjadi wajib baginya.
5. Pemberian Masa Terbatas. Anak akan merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte. Misalkan diberi perintah, “Maghrib hari ini jam setengah enam. Sekarang sudah jam lima, terserah kamu kapan berhenti main, yang penting saat adzan nanti kamu sudah selesai mandi.”
6. Ketegasan. In sya Allah, dengan ketegasan orang tua bisa hemat energi, hemat emosi. Dan jika tegas dari awal, kita akan terhindar dari melakukan kekerasan pada anak. Perlu digaris bawahi, bahwa tegas dan keras adalah dua hal yang berbeda. Ketegasan ditentukan dari kekonsistenan antara perkataan dan perbuatan kita. Jangan menerapkan perubahan aturan tanpa pertimbangan matang. Misalnya suatu saat orang tua melarang anak pergi bermain karena belum tidur siang, tetapi di lain waktu mengabaikan kembali larangan tersebut.
7. Istiqomah
Percaya atau tidak, jika kita istiqomah dengan keputusan yang kita buat, In sya Allah anak akan bersedia diajak bekerjasama. Usahakan tidak meladeni kemauan anak selama tak ada alasan yang bisa ditolerir.

Shona Vitrilia

*Dimuat di http://ummi-online.com/menumbuhkan-kepatuhan-agar-anak-taat-aturan.html

6 comments :

  1. Resep islami yg apik untuk mendidik anak, makasih, mbak, udah share.. mudah2 an bisa diterapkan ke adik yg sudah kecanduan games dan susah tidur siang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mba ^^ bismillah n semangat ya

      Delete
  2. Saran-saran seperti ini memang harus diingatkan terus ya mba. Karna jaman skarang mendidik anak pun tak mudah

    ReplyDelete
  3. Uni aahh...selalu kereen tulisannya.

    Aku jadi ingat ceramah Ust. Aam beberapa bulan yg lalu ttg Qaulan tsadida, Qaulan Tsaqila..

    Terangkum apik oleh Uni.

    ReplyDelete
  4. Duuh keren banget tipsnya Mbak, tak heran sudah dimuat di majalah Ummi. Saya tandain ah, bookmark untuk referensi.

    ReplyDelete
  5. Mksh sharringnya ya Mba.. Bisa diterapkan nih dlm mendidik anak2 kita..

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^