SOCIAL MEDIA

Saturday, 30 July 2016

Saat Anak Terkena Rubella dan Ibu dalam Kondisi Hamil

Minggu lalu, anak kedua saya echa terkena rubella. Kami baru mengetahuinya di hari ketiga saat echa masih demam. Rerata demamnya berada di suhu 38,6 derajat celcius dan sempat 39,3 derajat celcius. Saat dokter berkata echa terkena rubella, kami berdua kaget.

Terlebih saat saya bertanya pada dokter apakah rubella ini berbahaya. Dokter menjawab bahwa rubella tidak terlalu berbahaya, hanya jika bakteri ikut hinggap dan demam di hari ke tujuh tidak turun, maka akan berbahaya. Kekagetan selanjutnya adalah rubella berbahaya bagi ibu hamil. Saat mengatakan saya sedang hamil, dokter dan perawat pun ikut kaget. Tapi syukurlah, kekagetan kami mereda karena kehamilan saya sudah melewati trisemester pertama. Sangat berbahaya dan mengancam janin jika usia kandungan berada di trisemester pertama dan trisemester ketiga.

Drama Antara Ibu dan Anak Yang Sedang Sakit

Kondisi echa sekarang membuat kami memutuskan adanya pemisahan kamar. Saya dan kakanya khansa, lalu echa dengan abinya. Ada kekhawatiran, apa echa bakal rewel tanpa saya di sisinya. Terlebih dari bayi ia tidak pernah tidur terpisah dari saya. Paling beda tempat tidur dalam rangka proses belajar pemisahan kamar. Tapi Alhamdulillah, ternyata echa mau tidur bersama abinya. 


Gambar: google
Sesekali saya meneteskan air mata. Tak tahan ingin memeluk echa, ingin berada di dekatnya. Itulah saat ada ungkapan  "Lebih baik ibu yang sakit, daripada kamu yang sakit nak!" menjadi tak berlaku. Karena saya juga harus memikirkan anak yang berada di dalam kandungan saya. Meski presentase ibu hamil usia 4 bulan ke atas akan terjangkit berkisar 10-20% saja, tapi kami harus tetap waspada dan jaga-jaga.

Jika echa terbangun dan rewel, saya tetap datang ke kamarnya dengan menggunakan masker. Meski saya ga tau apakah akan tetap aman hanya dengan mengenakan masker. Menjelang pulih di hari ke 4 barulah echa mulai menanyai saya pada abinya, minta tidur dengan saya. 


Image result for rubella
sumber gambar: google

Apa Itu Rubella?


Rubella atau biasa disebut campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Penyebarannya sangat mudah, biasanya melalui batuk bersin penderita dan bisa juga dari berbagi makanan, bahkan dari keringat.


Gejala Rubella

Meski terlihat mirip, rubella berbeda dengan campak. Gejala umumnya yang saya kutip dari alodokter.com meliputi:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Hidung tersumbat atau beringus.
  • Tidak nafsu makan dan mual.
  • Iritasi ringan pada mata.
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher.
  • Ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah lalu menyebar ke badan, tangan, dan kaki. Ruam ini umumnya berlangsung selama 1-4 hari.
  • Nyeri pada sendi, terutama pada penderita wanita.

Efek Rubella pada Janin

Dikutip dari ayahbunda.co.id virus rubella fatal bagi pertumbuhan dan kehidupan janin. Janin akan terancam terkena kelainan jantung, kehilangan pendengaran atau tuli ketika dilahirkan, retardasi mental, kelainan pada bentuk dan fungsi mata, katarak, hidrosefalus atau pembesaran kepala akibat berisi cairan, mikrosefalus atau tengkorak janin tidak berkembang sehingga ukurannya lebih kecil dari normal, hipoplasia atau gangguan perkembangan pada sejumlah organ tubuh janin (seperti jantung, paru-paru dan limpa), bayi lahir dengan berat badan rendah, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata, gangguan perkembangan sistem saraf seperti  meningosefalitis. Bahkan janin terancam lahir dalam keadaan sudah meninggal di dalam kandungan atau still birth. Na'uzubillahiminzalik....

Kelalaian Saya Sebagai Orangtua

Pelajaran berharga bagi saya dan juga semoga ibu-ibu yang membaca. Dulu kami sebagai orangtua pernah sepakat untuk tidak memberikan imunisasi pada anak-anak kami. Alasannya seperti yang sudah lama beredar, kekhawatiran yang besar terhadap kandungan vaksin, karena masih dipertanyakan kehalalannya. Hingga sampai pada suatu waktu sekitar tahun 2014, keluarga suami mendesak kami untuk mengimunisasi anak-anak. Galau! Antara keinginan menjaga diri anak-anak dari yang haram atau menuruti kehendak keluarga suami. 

Saya yang terbiasa mencari referensi ke sana ke mari, langsung buka-buka buku lagi dan googling. Saya menemukan keduanya, pro dan kontra. Di tengah kebingungan pro-kontra, tanpa sengaja saya membaca postingan Uni Maimon Herawati di facebook tentang vaksin dan imunisasi. Segala postingannya membuka mata saya. Yang masih saya ingat soal anak-anak yang tidak imunisasi sebenarnya terbantu oleh anak-anak yang diimunisasi, karena imunisasi akan mengurangi populasi virus yang tersebar. Kedua, jika imunisasi sebuah konspirasi untuk melemahkan, kenapa justru yahudi memvaksin warga mereka dengan jumlah vaksin yang jauh lebih banyak dari negara lainnya.

Akhirnya kami memutuskan untuk vaksin. Namun sayang, saat tekad sudah bulat, kami berleha-leha untuk melengkapi. Sehingga MMR belum masuk dalam daftar vaksin anak-anak. Hiks. Ya Allah ampuni hamba... Dua bahaya yang harus kami tanggung, anak sakit dan resiko janin terkena rubella. Pelajaran berharga buat kami, kita tidak pernah tau kapan daya tahan tubuh anak kuat atau sedang lemah. Saat lemah, anak akan dengan mudahnya terinfeksi. Segera setelah echa benar-benar pulih, kami akan melengkapi imunisasi anak-anak. Karena insya Allah tidak ada kata terlambat, demikian kata beberapa dokter yang kami kunjungi. Jangan ulangi kesalahan kami ya bu!

7 comments :

  1. bentuknya kok seperti biang keringat ya mbak?..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih merah dari biang keringat mas, mirip campak

      Delete
  2. wah serem juga ya mbak, btw apa ada vaksinnya untuk ibu hamil agar janin atau bayi tidak tertular rubella dari sang ibu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo udah kena pas hamil sepertinya belum ada obatnya mba n ga bs dvaksin,

      Vaksin MMR bisa dilakukan sebelum hamil

      Delete
  3. Semoga lekas sembuh ya Mak utk Echa. Keep strong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah telat baca, Alhamdulillah udah sembuh mba, makasi maak :)

      Delete
  4. Semoga lekas sembuh ya Mak utk Echa. Keep strong :)

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^