SOCIAL MEDIA

Wednesday, 31 August 2016

Kata Teorinya Sih Begini Tapi Saya & Suami Kok Ga Begitu?

Katanya istri itu butuh mengeluarkan sekitar 20 ribu kata per hari. Sebagai manusia saya butuh ngomong tapi ga sebanyak itu juga wkwk.. Itu terlaluuu banyak kalo bagi saya.

Katanya orang visual itu.... Suka membaca dan kerapian. Saya dan suami sama-sama visual, saya suka membaca tapi kurang rapi. Suami ga suka membaca tapi rapi banget. 

Katanya suami kalo lagi punya masalah, entah itu masalah di kantor, cenderung menyelesaikan sendiri tanpa harus curhat sama istri. Tapi suami saya malah apa-apa suka curhat ngomong panjang lebar ke saya :D

Katanya istri cukup ngomong atau curhat, suami cukup mendengarkan ga perlu ngasih solusi. Tapi kenapa saya mau solusi?

Katanya istri itu multitasking, bisa ngerjain banyak hal bersamaan. Tapi saya kok engga. Saya orangnya fokus. Kalo ngerjain banyak hal dalam 1 waktu dijamin berantakan.

Katanya istri ga boleh sakit, yang boleh sakit itu cuma anak & suami aja. Masa sih?

Belum katanya-katanya lainnya.



Hal ini yang bikin saya cuek-cuek aja sama viral yang berseliweran di media sosial. Yang namanya teori yang asalnya dari manusia, bolehlah ga selalu hitam atau putih. Bisa jadi abu-abu. 

Sesama-samanya kita sama seseorang pasti ada bedanya. Sama-sama melankolis, bukan berarti sama semuanya. Karena kita bukan tumbuhan atau (maaf) hewan yang mudah diklasifikasikan. Uniknya makhluk bernama manusia...

Jadi saya stop menyamaratakan semuanya. Hasil belajar dari kuliahan juga sih. Jika suami atau istri ga sesuai dengan teori A, B atau C ya jangan maksa. "Harusnya kan suami saya seperti ini, harusnya istri saya seperti itu. Idealnya kan begini bukan begitu."

Toh ga ada kebenaran yang mutlak, KECUALI Al-Qur'an dan Sunnah. 

Selamat menyelami dan mengerti kondisi pasangan masing-masing. Jangan abaikan pengalaman hidupnya sebelum menikahi anda. Kata teorinya sih begini, tapi saya dan suami kok ga begitu? Ya ga masalah! Criiing.

Monday, 29 August 2016

Rahmat Allah Turun Pada Ibu-ibu Yang....

Dulu saya sempat heran sama mama, kenapa gitu setiap minta disuapin manja, mama rada keberatan *Gimana engga, udah makan masa minta disuapin makan lagi, wkwk. Seringnya mama komen, "Kalo mau makan lagi, ambil sendiri donk.." Tapi ya males, ada kenikmatan tersendiri bisa makan dari tangan mama langsung. Terakhir disuapin mama pas hamil anak kedua, xixi. Walau dulu sering gangguin mama makan dan mama agak gimana gitu, tapi ya tetap aja disuapin dua tiga suap. Sayang anak, sayang anak, hehe.

Setelah punya anak, saya baru bisa merasakan hal yang sama. Kok ga nikmat ya, baru juga mau duduk, belum masuk satu suap, bocah-bocah sholehah langsung berhamburan liat penampakan isi piring umminya. Selama ga pedas, langsung deh minta, "Ak Mi," sambil membuka mulut lebar-lebar. Eh tapi, terkadang udah dibilang pedas juga tetap kekeuh mau nyoba. Belum makanan atau minuman lainnya. Hoo... Ternyata ini yang dirasain si mama selama ini?



Pernah sih membatin, "Pengen deh sesekali bisa makan dengan tenang, haha." Tapi di sisi lain saya bersyukur. Banyak mungkin diluaran sana yang anaknya malas makan tapi anak saya justru tancap gas pol-polan *Cek-cek persediaan karung beras :D Udah makan, masih aja minta makan, wkwk...

Yang bikin tambah adem saat saya membaca sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas, tentang seorang wanita yang datang kepada Aisyah, lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu pun memberikan kepada kedua anaknya, masing-masing sebiji kurma dan sisanya untuk dirinya sendiri. Buah kurma itu langsung dimakan oleh kedua anaknya, lalu keduanya memandang kepada ibunya. Sang ibu memahami anaknya, lalu membelah sebiji buah kurma itu menjadi dua bagian dan memberikan kepada dua anaknya itu. Tidak lama kemudian Nabi datang dan Aisyah menceritakan perstiwa itu kepadanya. Maka Nabi bersabda, 'Mengapa kamu mesti heran dengan sikapnya? Sesungguhnya Allah telah merahmatinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya itu,."

Masya Allah.... Rahmat Allah turun pada ibu-ibu yang ikhlas berbagi makanan pada anak-anaknya. Berbagi makanan miliknya, bagiannya. Ternyata dibalik tingkah anak-anak selalu ada nilai lebih bagi kita selaku orang tua. Bahkan untuk hal yang kecil sekali pun, ga luput dari penilain Allah. Maha Pengasih Allah Lagi Maha Penyayang ^_^

Thursday, 25 August 2016

No Action No Passion!

Emotion applied to a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion compelling feeling, enthusiasm, or desire for something. (Wikipedia)

Terinspirasi tulisannya Mba Tanti Amelia tentang Mengubah Hobi Menjadi Rezeki, saya jadi pengen nulis tentang passion juga. Berawal dari keresahan yang sempat melanda saya. Ketika saya sudah menemukan 2 passion yaitu berbisnis dan menulis. Katanya kalo ngejalanin passion itu, ga ada capeknya. Ya kalo pun capek, tapi ga berasa karena saking senengnya ngejalanin si passion. Bahkan sampe-sampe ada yang bilang kita bakal rela ngejalaninnya meski ga dibayar sekalipun. Jatuh berkali-kali ga akan bikin kapok karena kita bener-bener menyukainya. 

Di saat saya masih meyakini pernyataan di atas, saya jadi sering mempertanyakan, "Eh beneran ga sih passion saya bisnis dan nulis? Kok ga selalu sama dengan pernyataan di atas? Ada jenuhnya, capeknya, pengen berhenti. Ga di bayar? Hoooo.... Mo sampe kapan kuat ga dibayar? Jangan-jangan itu bukan passion saya. Terus apa donk?" Dan ternyata keresahan saya terjawab sudah saat saya mengikuti Ngobrol Asyik bersama Teh Patra (Praktisi Homeschooling) beberapa waktu lalu.

Passion Itu Hobi Yang Diseriusin. - Teh Patra

Saat itu Teh Patra memberikan contoh, "Misal anak-anak suka banget diajak berenang. Pasti antusias, tapi di kolam cuma main-main air. Saat saya memutuskan agar anak-anak serius dengan renang, menyewa jasa pelatih, maka pada saat itulah hobi yang diseriusin itu menjadi tak selalu menyenangkan. Karena ada kedisplinan disitu. Terlihat berbeda saat dulu cuma pergi main air dengan pergi les renang, ada rasa malas dan sebagainya."

Ho... Mendengar penjelasan Teh Patra membuat saya mendapatkan angin segar. Jadi normal bin wajar jika selama saya menjalankan passion ada rasa malasnya, capeknya, jenuhnya, dan nya nya lainnya. Pertanyaanya adalah apakah saya mau serius atau tidak, sehingga si passion itu bisa menjadi sesuatu dan berguna.

Tapi rasa penasaran saya masih berlanjut. Terlebih saat teman sekaligus guru saya (masih diakuin muridnya ga ya? *wkwkw) Surya Kresnanda memposting tentang sebuah buku seputar passion. Terbesit kepengen wawancarain Professional Trainer & Consultant di Trainindo Media Eduka sekaligus Dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Bandung ini. Nah, hasil wawancara ini juga cukup membuka mata saya. Mari di simak!



Passion Itu Apa Sih?

"Menurut Saya passion itu adalah hasrat kita dalam melakukan sesuatu/menghasilkan karya."


Hobi Sama Passion Itu Sama Atau Beda?

"Berbeda. Hobi itu bentuk aktivitasnya. Passion itu energi yang mendorong kita untuk melakukannya. Energi itu dari dalam."


Nemuin Passion Itu Penting Ga Sih?

"Saya lebih percaya bahwa passion itu baru ditimbulkan saat kita sudah menjalani satu bidang dengan betul-betul serius, sehingga mampu memberikan hasil yang bagus. Maka passion itu bukan bawaan lahir yang harus ditemukan. Passion itu terbentuk dari keseriusan kita menjalani sesuatu sampai berhasil sehingga menimbulkan hasrat yang semakin besar terhadap bidang itu. Lakukanlah sesuatu dengan komitmen untuk bisa berhasil. Lama-kelamaan passion akan timbul dengan sendirinya."


Apa Yang Harus Dilakukan Saat Passion Berbeda Dengan Keinginan Orang Tua?

"Bicarakan, diskusikan, dan buktikan dengan hasil yang nyata dari passion kita. Pengalaman pribadi sih, orang tua mau yang terbaik untuk kita. Maka tugas kita bukan mendebatnya melainkan membuktikan bahwa dengan menjalani apa yang menjadi passion kita, orang tua bisa tenang. Dibuktikannya ya dengan hasil yang bagus, dan benar-benar menghasilkan buat hidup."


Ada Yang Bilang Kalau Passion Itu Hobi Yang Diseriusin, Bener Ga Sih?

"Ada benernya, tapi passion itu bukan di awal, tapi merupakan hasil dari keseriusan. Jadi hobi dulu lalu memutuskan untuk diseriusin. Diseriusin beneran, hasilnya bagus, gitu terus berulang-ulang. Lama-lama timbul hasrat untuk terus melakukan dengan lebih baik. Hasrat itulah passion. Karena itu passion itu hasil keputusan dan komitmen. Bukan sesuatu yang 'given' dan menjadi takdir kita."


Bagian yang mananya yang membuka mata saya? Bahwa ternyata passion itu bukan bawaan lahir yang harus ditemukan. Tapi terbentuk dari keseriusan kita terhadap sesuatu. Jika sudah menyenangi sesuatu (hobi) ya diseriusin! Selama minat atau bakatnya belum diserusin, ya bukan passion namanya. Saya mau serius di dunia penulisan ah. Semangat serius ^_^ Terimakasih Teh Patra. Terimakasih Surya Kresnanda. 

Jangan mudah terlena dengan apa yang Anda suka sesaat, lalu terlalu cepat menyimpulkan, "Itu passion saya!" Itulah jebakan mematikan yang akan membuat Anda membuang beberapa waktu Anda. - Surya Kresnanda

Monday, 22 August 2016

Lari Pagi, Allah itu Esa, Kata Berantai & Mencuci Sepatu

Portofolio Kakak, 22 Agustus 2016


Olah Raga: Jalan & Lari Pagi

07.30 WIB kami start jalan & lari pagi. Aktivitas yang selalu seru karena bisa bikin happy. Hormon endorfin ngalir.... Selain sehat dan happy, kakak dan uni juga ngeliat bulan setengah dan kucing. Meski rada takut, kakak minta megang kucingnya. Yup, latihan keberanian & sensori beraksi, ngerasain bulu kucing yang halus.






Aqidah: Allah itu Esa/Satu

Nama kegiatan ini membuat Mozaik Tulisan Allah.

Peralatan yang dibutuhkan kertas hias merah putih (masih hawa-hawa kemerdekaan), double tape, kertas A4, spidol hitam.

Cara membuatnya pertama-tama ummi bikin tulisan Allah, lalu tempelkan double tape sesuai jalur tulisan. Selanjutnya double tapenya dibuka (sesekali kakak mau buka double tapenya sendiri), dan ummi biarkan kakak menyusun kertas hias di atas double tape. Instruksinya sih minta kaka menabur, tapi kakak lebih milih nempelin satu-satu :D

Setelah jadi, Ummi menjelaskan pada kakak sebagai muslim kita harus mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya Allah sajalah yang mengatur segala urusan kita. Allah ga hamil kayak ummi dan ga ada ummi atau abinya. Allah itu satu. 

Manfaat dari permainan ini selain dapat menanamkan aqidah juga melatih motorik halus, kreativitas dan seni kakak. Tahun lalu kakak main beginian/dot to dot belum betah. Alhamdulillah sekarang betah nyelesaiin sampai akhir. Dan hasilnyaaa Masya Allah.... Langsung tempel di dinding.. Pengennya sih dikasi frame. Nanti deh bulan depan *Tutup dompet pelan-pelan haha.






Bahasa: Kata Berantai

Guna melatih penguasaan kosa kata kakak, ummi ngide kita main kata berantai. Paling banyak ngebisikin 3 suku kata. Ajak uni & abi buat ikut main juga. Kata-katanya seperti:
"Ummi sayang echa"
"Ummi jalan pagi"
"Apel, pisang, manggis"
Alhamdulillah ternyata kakak penyampai pesan yang baik :)
Selanjutnya gantian kakak yang bisikin ummi.



Practical Life Skill: Mencuci Sepatu


Mencuci sepatu salah satu aktivitas favorit kakak ^_^




Bacaan Hari Ini






Alhamdulillah for today!!!
Senang bisa menjadi observer + fasilitatornya kakak ^^
Besok siap dengan kegiatan seru lainnya ya kak, bismillah...

Sunday, 21 August 2016

Portofolio Kakak: 15 - 19 Agustus 2016

Shaqeela Alkhansa A.
3.5 tahun

Alhamdulillah udah bisa letter matching n rocognition

Betah cuma nyobain 1 anyaman aja, haha

Semangat banget liat penggaris. Padahal ga ada di lesson plan alias di luar rencana.
Inisiatif nyari gajah dan ngambil remote biar si gajah bisa main jungkat-jungkit. Next kakak juga bikin seluncuran.

Pas ummi lagi berkutat sama lakban,
kakak ikutan minta. Awalnya ga ngeh ngerjain apa. Pas minta lagi ke ummi, ummi bilang udah segitu aja ya yang tadi.
Eh kakak bilang, "Kaca matanya belum jadi mi..." Hooo ternyata kaca mata bolongnya mau dikasi kaca :D pas udah jadi malah kakak heran sendiri, "Lengket!"


Matching Number. Alhamdulillah cool!
Meski angka 6 di 9, 9 di 6 :D mirip yeee, makluuum..

Pada antusias main beginian, haha. Lucu bin seruuu...



Evaluasi buat Ummi:

Deeeuh... Males bangeeet buat nulisin portofolio di sini. Secara ga kece kalo nampang foto doank. Idealnya ada beberapa keterangan seperti nama kegiatan, alat yang dibutuhkan, cara bikin, cara bermain dan manfaat dari permainan. Maafkan diriku yang malas ini ya buibu.. *salim. Next mudah2an bisa lebih lengkap..

Yang ga kalah penting, semingguan ini ummi belum siap sama lesson plannya. Harusnya hari Minggu segala peralatan udah tersedia en siap dimainin. Tapi kenyataannya hari H masih prepare dan kadang ga nemu printilan ini itunya, walhasil skip skip skip. Lumayan juga sih kegiatan yang di skip. Benarlah adanya.... bahwa seringkali bukan anak yang belum siap, tapi emaknya. Maafkan ummi yaa kaaak *peluk.

Eeeh kenapa portofolio kakak isinya malah evaluasi buat Ummi, haha numpang ya kak. Biar next ummi bisa lebih baik lagi jadi fasilitator kakak. Sip!





Saturday, 20 August 2016

10 Kebiasaan Masyarakat Korea Dalam Hal Kebersihan & Kerapian

Agak bingung sebenarnya mau nulis apa saat giliran tulisannya Mba Lendy yang dijadiin sumber inspirasi PIN KEBandung. Peace Mba! Bukan karena tulisanmu jelek *wkwkw, tapi dirikunya yang bingung kira-kira bakal nulis apa soal-menyoal Korea Selatan. K-Pop? K-Drama? Weleh-weleh.... Walo sesekali (beneran gitu?) ikut nonton tapi ya ga ngerti mau ngupas tentang apanya dan bagian yang mananya *wakwaw.

Bendera negara Korea Selatan
gambar: http://global.liputan6.com/
Mendekati deadline akhirnya keinget sama tulisannya Teh Shinta Rini yang ada di buku Bunda Cekatannya Institut Ibu Profesional. Judul tulisannya "Menyulap Gudang Menjadi Hotel." Mba Shinta yang pernah tinggal di Korea ini bercerita seputar kebiasaan orang Korea yang rapi jali. Saat saya membaca pun baru agak ngeh lho. "Eh iya ya, selama ini kalo nonton K-Drama perasaan semiskin apapun tokohnya, jarang banget ngeliat rumahnya kotor atau berantakan. Pas mereka buka lemari, rapi. Buka kulkas, apalagi. Barang-barang di rumah juga tertata dengan rapi." Rahasianya Apa? Berikut saya kutip dari tulisannya Teh Shinta yang kece.


Ternyata masyarakat Korea Selatan terbiasa:


gambar: careernews.id


Membuang barang-barang yang udah ga kepake di depan rumah atau di pinggir-pinggir jalan biar bisa digunain sama orang yang membutuhkan

Barang yang dibuang bukannya barang yang rusak tapi masih layak pakai, cuma mereka udah ga ngebutuhin lagi. Bahkan sering terlihat masih baru. Mereka ga terbiasa menggunakan peralatan dengan masa pemakaian yang panjang. Bisa jadi karena teknologi peralatan rumah tangga selalu berkembang jadinya mereka menggantinya dengan peralatan yang baru sebelum waktunya rusak. Kalo udah ga bisa ngerawat lagi atau ada perabotan yang lebih canggih, mereka biasanya segera mengeluarkannya dari rumah. Kalau barang berukuran kecil cukup diletakkan di luar rumah. Biasanya kslo ada yang membutuhkan, bisa diambil secara bebas. Kalo ga, biasanya diambil oleh pihak kebersihan. Sehari aja barang ditaruh biasanya besok udah ga ada lagi.


gambar: personalitytiffanykhoirunnisa.wordpress.com


Membuat jadwal harian dan mingguan untuk membersihkan dan merapikan rumah

Mereka disiplin banget soal beginian. Padahal mereka ga punya asisten rumah tangga ato babysitter lho! Mereka selalu ngerjain urusan memasak, bersih-bersih, ngerapiin rumah, & mengasuh anak-anak sendirian.



Gambar: english.visitkorea.or.kr

Bangun jam 6 pagi untuk membuat sarapan keluarga

Persiapan memasak yang praktis & simple membuat urusan memasak di dapur ga ngebutuhin waktu yang lama & dapur selalu bersih. 

gambar: hdimagelib.com


Agar rumah terkesan luas & terlihat ga banyak barang, mereka menyiasatinya dengan furniture built in

Furniture ini bisa berupa lemari built in, yaitu sebuah lemari yang dipasang pada ceruk sebuah tembok, sehingga permukaan lemari sejajar dengan keseluruhan dinding atau tembok. Ada yang didesain sampai langit-langit rumah sehingga menyediakan ruang yang cukup besar buat nyimpen banyak barang. Sementara untuk ruangan kamar dibikin lemari built in berlapis kaca yang menciptakan kesan ruangan yang luas dan cahaya yang terang.


gambar: interiorsbypattillc.com 


Mengatur letak barang-barang di rumah dengan membuat kategori-kategori jenis barang

Pertama, mereka menyiapkan kotak-kotak yang bisa mereka dapatkan dari kotak kemasan makanan, sepatu, kotak susu, dll., untuk menyusun barang-barang sesuai jenisnya. Dengan cara ini mereka udah ngelakuin yang namanya daur ulang yang bermanfaat buat lingkungan. Keren yak! Kotak-kotak tersebut mereka hias dengan kertas kado/kain trus dipakai buat nyimpen barang yang ada. Tampilan isi lemari pun menjadi sangat menarik dan tertata cantik.

gambar: majalahasri.com 


Cara menyusun & merapikan baju di lemari ada seninya

Mereka menggunakan kotak-kotak yang bisa digunakan untuk menyimpang barang sesuai dengan kategori, seperti kotak khusus baju kaos, kotak celana panjang, kotak pakaian dalam, kotak berisi pakaian dalam, dan kotak berisi kaos kaki. Mereka senang melabeli kotak dengan nama barang agar mudah dicari. Sebelum memasukan pakaian ke dalam masing-masing kotak, lebih baik dipili-pilih terlebih dahulu: baju yang jarang dipakai karena sudah kekecilan, sudah lama modelnya, dan rusak dipisahkan di kotak terpisah. Nantinya baju-baju ini bisa di make over modelnya sehingga bisa dipakai lagi dengan style yang baru. Jika baju sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena sulit untuk dijahit kembali atau sulit di make over, mereka membuangnya ke tempat sampah khusus pakaian yang sudah disiapkan pemerintah berupa kotak besar berwarna biru layaknya kotak pos surat.


gambar: palembang.tribunnews.com 


Untuk menyusun mainan anak-anak, mereka biasanya meletakkan sebuah kotak kontainer dan dilabeli sesuai dengan jenis mainannya

Misalnya: kotak mainan boneka, kotak mainan lego, kotak mainan kartu, kotak mainan bola, dll. Mereka menyimpan dengan posisi yang rapi. Jika anak ingin mainan boneka, maka orang tuanya akan memberikan kotak mainan boneka. Saat ingin bermain lego, anak-anak harus merapikan dulu semua bonekanya ke dalam kotak untuk ditukar dengan kotak mainan lego. Begitu seterusnya. 

gambar: www.desainic.com


Laci tertata rapi dengan sekat-sekat yang mereka buat sendiri

Sekat-sekat tersebut mereka buat dari triplek yang tingginya kira-kira 3 cm. Kalau ga mau repot mereka biasanya membeli keranjang kotak bersekat banyak untuk menyimpan barang-barang sesuai dengan klasifikasi jenisnya. Misalnya, sendok disimpan terpisah dengan garpu dengan posisi sejajar bukan berdiri, sumpit sendiri, pisau roti sendiri. 

gambar: resepkoki.co


Kulkas tak ubahnya lemari yang tersusun rapi dari beberapa kotak-kotak keranjang & wadah kedap udara yang dilabeli satu per satu

Mereka menyimpan bahan makanan dalam sebuah zipper bag plastic agar makanan tetap segar dan higienis. Serta mudah disusun dalam rak-rak di dalam kulkas. Ga lupa menuliskan tanggal kadaluarsa di setiap wadah penyimpanannya. Untuk menyimpan sayur-mayur, mereka menggunakan kertas koran biar ga cepet busuk.

gambar: www.cleanipedia.com


Cara unik merawat perabotan rumah

Mereka lebih senang menggunakan cuka untuk membersihkan perabotan, membersihkan noda, membersihkan kaca, mengilapkan furniture, dll. Untuk membersihkan kain yang sangat kotor, mereka menyiapkan baskom/panci alumunium khusus untuk merebus kain yang kotor seperti kain lap, kaos kaki, keset dengan detergen cuci dan pewangi pakaian. Hasilnya emang bersih banget. Selain itu mereka juga senang menggunakan serbuk baking soda untuk membersihkan peralatan dapur, menyikat lantai kamar mandi, mencuci baju, membersihkan karpet, mengepel, dsb.


Saya mulai nyicil nerapin di rumah. Memang kerasa perubahan yang signifikan hehe. Terlebih seneng banget suami ikut bantu bikin dus mainan anak-anak terus dibungkusin kertas kado. Terus mulai bikin kotak-kotak klasifikasi barang. Kalo ngebuangin barang yang udah ga dipake di depan rumah kayaknya belum lazim ya di sini. Paling ngasi langsung ke yang membutuhkan. So, gimana buibu, ikut tertarik menerapkan konsep masyarakat Korsel di rumah?





Thursday, 18 August 2016

Printable Hijaiyah

Assalamu'alaykum, hai hallo ibuba ^_^

Kali ini saya mau share link printable hijaiyah. Mangga di download, semoga putra-putrinya semakin semangat belajar huruf hijaiyah ya bu!



























Selamat Download, ngeprint-print & bermain bersama si kecil ^_^

Monday, 15 August 2016

Referensi Stimulasi Untuk Homeschooling Usia Dini


Alhamdulillah memiliki buku-buku di bawah ini amat sangat membantu saya dalam merencanakan kegiatan untuk anak-anak. Semua-mua ga plek langsung dibeli, tapi tiap bulan dicicil atu-atu, bahkan ada yang dalam rentang waktu yang lama, *emak yang bijak mengelola keuangan keluarga wkwkwk, aamiin.











Saking banyaknya kadang suka bingung mau ngerjain yang mana. Tapi belakangan Alhamdulillah dapet ide kalo tiap minggu ada temanya, jadi lebih terklasifikasi dengan baik dan jelas mau nyari kegiatan kayak gimana di buku-buku tersebut. Sebenarnya masih banyak lagi referensi buku-buku untuk menstimulasi, tapi ya bagi saya sih udah cukup bangeud beud. Belum lagi dari pinterest, banyak banget sebarek-abrek ide kegiatan untuk menstimulasi anak. Belum punya aplikasinya? Download gih bu! Mana printablenya berseliweran, ga ngiler tuh? Heuheuheu...





Untuk kurikulum saya ga saklek sih. Pake Montessori plus kental dengan keislamannya. Tapi ga ditulisin juga. Yang paling utama bagi saya, seperti halnya ibu-ibu kekinian lainnya adalah stimulasi aja. Jika anak bisa, hafal, menguasai maka itu adalah BONUS. Ga ada target, yang penting anak FUN!

Gimana sama lesson plan? Baru mulai nyoba bikin dan ternyata sangat termudahkan dengan adanya perencanaan dibanding mengalir aja. Sifatnya fleksibel, ga harus terlaksana semua karena tetap melihat ketertarikan anak, kondisi anak (capek/lagi mood ga?), bahkan jangan kaget jika tetiba permainan yang sudah disiapkan malah menjadi mainan lain sesuai dengan imajinasi mereka. 

Kalo anak ga tertarik sama permainan yang udah disiapkan gimana? Saya mah udah cukup langganan bu *haha. Tapi jangan tetiba galau terus ga semangat lagi bikin/nyiapin mainannya ya bu. Namanya juga anak-anak, hehe. Simpen dulu, suatu saat dikeluarin lagi. Banyak buibu yang punya pengalaman yang sama, ngeluarin mainan itu lagi di beberapa waktu mendatang. Bisa jadi saat itu mungkin permainan belum sesuai dengan usia anak (terasa sulit), ga mood, capek, dll. Oke, keep semangat ya bu! Bisikin saya kalo ada referensi kece lainnya wokay *teteup.


Tuesday, 9 August 2016

Play Ground Time!

Sebelum-sebelum ini saya suka memposting aktivitas anak-anak di instagram @sekolahdirumah dan di beberapa akun lainnya. Yang udah baca tulisan saya tentang "Antara Instablog dengan Blog Beneran," pastinya udah tau alasan saya akhirnya lebih memilih posting-posting di sini aja. Selain itu.... Harapannya biar captionnya bisa lebih lengkap dan juga mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi ibu-ibu di rumah, *cieh gaya, sok keren banget mak! :D

Nah, kemarin si Uni (2 tahun 7 bulan) main ke play ground deket rumah. Alhamdulillah lokasi play ground di area Mesjid, jadinya bisa bebas bermain. Tapi ya di sore hari, karena paginya dipake sama anak-anak TK dulu. Siang kosong sih, tapi ga mau ah, panas, hehe.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari play ground. Selain melatih keberanian dan rasa percaya diri anak, PG pastinya juga bisa melatih kemampuan motorik kasar anak. Apa itu motorik kasar? Mengutip dari bukunya Mba Julia Sarah "Rumah Main Anak 1," kemampuan motorik kasar adalah bagian dari aktivitas yang mencakup keterampilan otot-otot besar, gerakan ini lebih menuntut kekuatan fisik dan keseimbangan. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki dan seluruh tubuh anak. Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berjalan, berlari, naik-turun tangga, melompat, dan sebagainya. Jadi kalo anak menendang jangan dilarang ya bu, kecuali menendang adik atau temannya, loh?

Kemarin absen si Kakak, *sedih.. karena Kakak lagi sakit. Biasanya 22nya sangat antusias kalo diajak ke PG. Oke, berikut aksi si Uni di PG.






Bermain ke PG merupakan aktivitas rutin kami, minimal 2 kali seminggu. Si Uni masih pilah-pilih mau main apa, sementara kalo si Kakak mau nyobain semuanya. Ya sesuai tingkatan usia kali ya, dulu pas kakak seusia Uni juga belum berani naik PG yang rada ekstrim. Dan sesungguhnya nih, setiap kali ke PG bukan anaknya aja yang berlatih keberanian, tapi emaknya juga haha. Berani melepas anak manjat-manjat, percaya Allah akan melindungi mereka, dan percaya bahwa mereka bisa melakukannya sendiri. Meski tangan masih suka gatel pengen meganggin *tepok jidat.