SOCIAL MEDIA

Monday, 1 August 2016

Ngobrol Asyik Homeschooling bersama Teh Patra & Kang Ismir



Peduli Pendidikan dari Rumah
Langkah Sederhana Menuju Pendidikan Indonesia Berkualitas

Alhamdulillah akhirnya bisa mengikuti acara ini. Sempat hampir ga jadi karena anak saya baru pulih dari sakit. Rencana awal suami juga bakal ikutan, tapi mengingat anak yang masih butuh perhatian jadinya kami berbagi peran. 

Bertempat di Ayam Bakar Wong Solo, peserta yang hadir lumayan membludak. Gimana engga, H+3 setelah tiketing dibuka langsung SOLD OUT. Belum lagi daftar waiting list yang mengular. Jadinya saya merasa beruntung bisa mendapatkan seat dan bisa hadir di acara ini. 

Saat pembukaan, MC langsung bagi-bagi doorprize, wow. Tapi sayang saya ga kebagian *emang ga ikutan juga sih, hehe. Nah, setelahnya lanjut ke sesi materi yang di sampaikan oleh Kang Ismir Kamili. 

Motivasi Keluarga Kamili Memutuskan Homeschooling



Salah Kaprah Tentang Pendidikan

Kang Ismir menjelaskan beberapa hal terkait adanya salah kaprah tentang pendidikan, sebagai berikut:
  • Keilmuan dianggap tidak penting dan terbiasa hidup dalam sistem yang tidak logis
  • Budaya masyarakat yang tidak merit-based. Pengangguran banyak, sementara mencari karyawan itu sulit. Orang pintar kurang dihargai di negeri sendiri. Bertanya itu 'aib,' kenapa? Karena bertanya dianggap bodoh/telmi alias telat mikir.
  • Sekolah untuk mendapatkan legalitas bukan mendapat ilmu
  • Wajib sekolah bukan wajib belajar
  • Belajar itu hanya selama usia sekolah. Padahal seharusnya seumur hidup.
  • Belajar itu menyelesaikan bahan sesuai kurikulum. 

Mengapa Peran Orangtua Penting dalam Perbaikan Pembelajaran Anak

  • Anak adalah amanah untuk orangtua, dan orangtua adalah orang yang paling berkepentingan dengan pendidikan anak-anaknya (faktor motif).
  • Orangtualah yang (seharusnya) paling mengenal anak, terutama sejak usia dini (faktor pengenalan).
  • Dengan pola pendidikan klasikal (apalagi dengan banyak murid) sangat sulit bagi guru untuk menyesuaikan pola aktivitas dengan masing-masing jenis anak (faktor pengarahan)
  • Orangtua adalah tempat anak mengadu dan berlindung jika anak mengalami masalah di sekolah (faktor kedekatan)
  • Banyak orangtua yang terpelajar sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengajar anak (faktor kemampuan)





Persiapan Homeschooling

1. Orangtua. 
-Siap atau tidak harus disiplin pribadi. Ucapan, gaya, tindakan akan dicatat/dinilai oleh anak.
-Siap Belajar. Menjadi teladan, orangtua suka membaca anak juga akan mengikuti. Selain itu orangtua juga perlu menguasai bahan pelajaran.
-Siap Waktu. Bisa mengurangi waktu kesenangan.
-Siap Fiancial. Homeschooling bukan berarti tidak mengeluarkan biaya sama sekali.
-Komitmen Suami Istri

2. Anak
-Komunikasikan dengan Anak. Keputusan ga boleh sepihak, orangtua harus menanyakan pendapat dan keinginan anak.
-Tidak Ada Aspek Negatif. Waspada usia SMP (usia kritis 10 - 15 tahun). Moral hazard atau perilaku bermasalah seperti pacaran, pornografi, merokok, kecanduan games. Jika hendak memutuskan HS, perilaku ini harus direhab terlebih dahulu. Pada usia kritis ini sebaiknya orangtua memperhatikan dengan baik siapa teman anak, bacaannya apa, tontonannya seperti apa.
-Mengenal Anak.

3. Lingkungan
-Ruang Belajar yang Layak; Meja makan bisa disulap jadi ruang belajar saat tidak digunakan.
-Sarana Pendukung; PC dan internet harus ada.
-Lingkungan Sosial



Target Kompetensi Homeschooling

Keluarga merupakan unit sosial yang paling powerfull. Orang dulu kenapa banyak anak dan tidak merasa terbebani? Karena mereka menganggap anak adalah aset. Anak adalah bagian dari tim. Jaman dahulu lahan sangat luas, punya sawah jadi dibutuhkan tim untuk mengerjakan bersama-sama. Sementara jaman sekarang, lahan semakin sempit dan orangtua bekerja untuk survive/bisa bertahan hidup di kota, sehingga anak dianggap beban. Padahal jika anak dianggap sebagai bagian dari tim, tentu anak bisa menjadi aset keluarga. Kalo saya sih mikirnya, saat memiliki anak dan sudah cukup usia, pekerjaan di rumah ga harus ibu yang mengerjakan semuanya. Disitulah anak bisa dikatakan aset dan bisa menjadi tim dalam keluarga. Bahkan ga perlu asisten rumah tangga, hehe. Pastinya ini akan membantu anak saat dewasa kelak, jadi lebih disiplin dan mandiri.




Prasyarat Umum Visibilitas Homeschooling
  • Cukup waktu dan pembagian peran orangtua
  • Orangtua termasuk pribadi yang disiplin
  • Tertarik dengan pendidikan anak
  • Kesiapan finansial kurang lebih sama dengan sekolah
  • Orangtua dengan tingkat pendidikan minimal S1 umumnya akan sanggup mengajar hingga tingkat SMP, SMA adalah bonus.

Jangan Lakukan Homeschooling Jika...
  • Hanya pelarian dari kesulitan belajar anak di sekolah (legitimasi untuk malas sekolah)
  • Hubungan emosional buruk dengan anak
  • Sama sekali tidak punya waktu di rumah
  • Anak menyimpan masalah moral serius
  • Suasana di rumah tidak kondusif
*Penjelasan mengenai sekolah payung ada di kolom komentar.

Pilihan Pertanyaan:

1. Sekolah payung dimana dan berapa biayanya. Jika kakak beradik ingin anak-anaknya HS kira-kira bagaimana?

2. Bagaimana menumbuhkan semangat belajar anak? Bisa belajar sendiri dan bagaimana mengkomunikasikannya?

3. Lebih utama mengajarkan anak bahasa arab atau inggris?

Jawaban:

1. Untuk sekolah payung, tidak semua sekolah menerima. Di Bandung yang sudah menerima adalah Sekolah Alam Bandung. Untuk biaya tergantung kebijakan sekolah masing-masing, ada yang bayar saat ujian saja, ada yang biaya secara normal; uang spp, dll.

Lebih banyak justru lebih mudah dan santai karena peran pengajaran bisa dibagi-bagi. Minimal 10 orang sudah bisa didaftarkan di DIKNAS sebagai HS group.

2. Salah satu hal yang mendasar yang hilang dari pendidikan kita adalah "mengapa/buat apa."

Beda kurikulum Cambridge dengan Indonesia adalah Cambridge mengajarkan metode paling akhir. Yang diajarkan pertama kali pada anak adalah bagaimana agar anak bisa membuat/menciptakan rumus rumus, kenapa rumus ini bisa ditemukan. Sementara di Indonesia yang terjadi adalah bagaimana menghafal rumus.

Tentukan juga visi misi dan tujuan pembelajaran. Mulai usia SD tanyakan pada anak apa target mereka 5 tahun/10 tahun ke depan.

3. Tergantung arah/minat anak kemana. Dan pada dasarnya bahasa Arab lebih mudah dipelajari dari bahasa Inggris ketimbang dari bahasa Indonesia. 

Kesimpulan:

Beranjak dari keprihatinan akan fenomena kualitas pendidikan di Indonesia, yang mana di sekolah terasa serba tanggung, banyak ilmu yang dipelajari namun anak tidak menjadi ahli. Pengangguran banyak, tapi anehnya mencari/menemukan karyawan yang kompeten itu sulit. Oleh karena itu HS bisa menjadi salah satu pilihan orangtua dalam memenuhi ketidakpuasan terhadap sistem pembelajaran di Indonesia.

**Contoh Jadwal Harian:


20 comments :

  1. Setuju bangert dengan adanya program tersebut.... semoga pendidikan di indonesia baik di plosok maupun di kota tetap di perhatikan

    ReplyDelete
  2. Saya pengen deh anak masuk sekolah Alam Bandung hehehe cuman jauh jg dri Cimahi..TFS mba semoga pendidikan di Indonesia lebih baik lagi y sedih liat fenomen seperti itu

    ReplyDelete
  3. Uni,
    Sekolah payung itu apakah?

    Barakallah resumenya, Uni..

    Aku adalah salah satu yang ga kebagian tiket, Un....seddiih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. sekolah payung itu salah satu cara mendapatkan legalitas mba :D

      Ga ditulisin bagian legalitas krn belum paham semuanya :p

      Sekolah payung kayak numpang ujian aja gitu mba, jd terdaftar juga sbg lulusan sekolah tsb meski ga ikut belajar dsana. *cmiiw

      Delete
    2. Abis sharing sama uni yang kemarin ketemu, jadi makin semangaaat...

      Paling engga satu hari-satu aktivitas bermanfaat buat anak.

      Bismillah...
      Semoga bisa!

      Delete
  4. TFS mba, HS juga solusi buat sekolah2 yg makin mahal y mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. meski HS jg butuh biaya, tp sptnya bisalah ga semahal sekolahan ^^

      Delete
  5. jazakallah khoyron resumenyaa yaaa :*

    ReplyDelete
  6. Tfs mbak.. Lagi tertarik banget dg HS, tapi di jogja masih susah cari komunitasnya, apalagi sekolah payung gitu.. Eh atau aku aja yg kurang info ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba yoanna ^^

      Coba search hsmn jogja mba, kayaknya ada. Semangat yuaa

      Delete
  7. tentang HS aku banyak belajar dari engkoh Mak *_*

    ReplyDelete
  8. Mba, penerapan homeschooling memang berdasarkan pribadi masing masing ya. Aku pribadi blm bs melaksanakan itu. Nice info mba

    ReplyDelete
  9. Mba, penerapan homeschooling memang berdasarkan pribadi masing masing ya. Aku pribadi blm bs melaksanakan itu. Nice info mba

    ReplyDelete
  10. Salut sama orangtua anak homeschooling, kayak gen halilintar itu lho aku salut. Orangtuanya berani dan mau capek biar anaknya berpengetahuan. Pendidikan memang nggak melulu dari bangku sekolah formal.

    ReplyDelete
  11. Pengen bisa homeschooling tapi ibunya nggak kreatif dan disiplin..aduh mesti belajar banyak nih

    ReplyDelete
  12. Aku sama suami masih ngikut sekolah umum saja. HS emang lagi gencar banget bahkan kekinian, asalkan bisa konsisten buat anak dan pengajarnya di rumah kenapa engga ya.

    Semoga saja dimanapun menuntut ilmu anak2 kita bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan kedua orangtuanya yaa Uni.

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^