SOCIAL MEDIA

Tuesday, 6 September 2016

Dunia Ibu Bukan Kompetisi Tentang Siapa Anak Yang Lebih Cepat

"Wah anaknya si A udah bisa calistung, padahal masih udia dini."

"Kenapa temenku bisa ASI ekslusif sementara aku ga.. Kepaksa pake sufor, ini gara-gara...."


"Hebat ya Dia bisa nerapin Homeschooling, pasti kudu sabar n pinter dulu jadi ibu. Jadi pengen juga tapi bisa ga ya?"



Berbagai opini berseliweran, bagaimana sosok ibu yang sempurna bagi anak. Terlebih dengan adanya media sosial, membuat setiap aktivitas ibu-ibu sangat mudah untuk diamati *bagi ibu yang suka posting dan ibu yang suka bermedsos ria pastinya. Kalo ga kuat-kuat iman, ya bawaannya kepengen juga kayak si ini, kayak si itu. Padahal setiap keluarga, ibu dan anak ya unik. Ga ada yang persis sama. Hal inilah yang membuat saya tergerak untuk mewawancarai Teh Wiwik Wulansari, ibu hebat dari Farid (4,5 tahun), Fatin (2 tahun 3 bulan), dan Fatih (8 bulan) ini.



Tamatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang saat ini memilih menjadi ibu rumah tangga punya pandangan yang berbeda mengenai sosok ibu ideal atau sempurna. Berikut petikan wawancaranya:


1. Adakah persiapan yang teteh lakukan sebelum menjadi seorang ibu? Jika ada persiapannya apa saja?

Menjadi seorang ibu adalah dunia baru dan juga impian saya. jadi sebagai rasa syukur, saya berusaha mempersiapkan diri semenjak mengetahui kehamilan. diantaranya adalah dengan membaca buku dan artikel terkait kehamilan, perawatan bayi (0-2 tahun), tahap perkembangan dan stimulasi anak (0-5th), sampai bikin jadwal MPASI padahal anaknya belum lahir, hehe.. mungkin karena latar belakang saya medis, jadi persiapannya banyak terkait kesehatan dan saya belum mengenal parenting. Waktu itu saya sampai browsing merk susu terbaik untuk anak, haha dan akhirnya belajar tentang ASI, menyusui dan manajemen ASIP. Saya juga mempersiapkan kondisi fisik dengan senam hamil dan olahraga, menjaga asupan makanan, mengikuti kelas prenatal dan kelas hypnobirthing (karena punya mindset melahirkan itu sakit sehingga ingin mengubah mindset tersebut bahwa melahirkan juga bisa nyaman).

Untuk menunjang kondisi psikis dan mempererat bonding dengan janin, saya sering mengajaknya mengobrol, bernyanyi juga membacakan buku. Saya juga mengurangi aktivitas kebiasaan yang kurang baik, seperti nonton tv dan main game, sebaliknya berusaha menambah aktivitas kebaikan supaya energi positifnya terasa oleh si janin.

Kira-kira itu persiapan saya menjadi ibu. Sehingga ketika anak lahir, minimal untuk perawatan bayi seperti memandikan, merawat tali pusar sudah bisa dilakukan sendiri, saat anak kolik juga ga terlalu panik. saya juga main boneka-bonekaan ketika hamil pertama untuk simulasi memakaikan baju, bedong dan cara menggendong, juga mengerjakan soal psikotes, supaya atmosfir berpikir nyampe ke si janin karena kebanyakan nonton tv berasa bikin otak tumpul, hee..


2. Apakah persiapan tersebut membantu teteh saat setelah menjadi ibu? Adakah ketimpangan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan?

Ya, persiapan itu membantu sekali. Saya sadar jauh dari orangtua dan mertua sehingga untuk merawat si bayi kelak, mau ga mau saya harus megandalkan diri sendiri dan ayahnya. kadang si ayah juga diajak ikut kelas prenatal seperti memandikan bayi, dll. Jadi saat bayi lahir sudah lumayan bisa diandalkan,hehe walau tetep sih, learning by doing. Yang surprisenya si bayi ini kadang bermimik ngeh saat mendengar kembali suara murotal, lagu atau buku yang dulu sering dia dengar saat di dalam perut. Untuk anak pertama rasanya masih bisa menyesuaikan diri antara teori dan kenyataan. setelah anak kedua dan ketiga lahir baru mulai banyak 'menyimpang' dan jadi teori ala saya yang memudahkan aja, haha..


3. Jika ada ketimpangan, bagaimana teteh mengatasinya?

Ketimpangan mulai terjadi saat anak kedua dan ketiga lahir. Tergantung teori apa dulu sih, kalo ada ketimpangan, intinya yang memudahkan kita aja selama tidak menzalimi anak juga tidak melanggar Alquran dan Sunnah. Karena ujung-ujungnya setiap anak unik, setiap orang tua juga unik, kadang cara yang sama belum tentu efektif untuk orang lain, jadi percaya diri aja bahwa orang tua pasti lebih bisa mengerti diri dan anaknya.

Misal waktu anak kedua saya ga mau makan di usia 6.5 bulan. Saya coba tawarin makanan yang mudah disiapkan (buah, sayur), ga bikin makanan yang merepotkan saya, karena di tolak terus kan ga semangat masaknya, hehe.. akhirnya engga saya kasih MPASI (Makanan Pendamping ASI) apapun, hanya ASI saja. Tapi setiap jam makan dia selalu saya ajak melihat saya makan. Lalu di usia 7 bulan dia mulai mengambil nasi di piring saya, dari situ saya mulai memberinya nasi lembek dan ber-BLW (Baby Lead Weaning) ria yang ternyata cocok untuknya padahal prinsip BLW versi saya minimal diatas 8 bulan, saat jemari dan proses menelan makanan kasarnya sudah cukup baik serta kondisi berat badan bayi cukup. pada anak ketiga akhirnya saya pernah juga memberi MPASI dan biskuit kemasan disaat tidak selalu bisa menyiapkan makanan rumah sendiri, padahal sebelumnya tidak pernah.


4. Menurut teteh wajar/normal ga sih kalau kita itu bukan ibu yang selalu sempurna?

Sebagai ibu, pasti kita ingin menjadi dan memberikan segala yang terbaik untuk anak. Hal itulah yang kadang membuat banyak ibu mudah merasa bersalah jika tidak melakukan apa yang diyakininya baik. Nah seringkali rasa bersalah ini menjadi negatif dan membuat ibu merasa buruk, selalu mengkritik diri sendiri, dll., sehingga menjadi banyak tuntutan terhadap diri, anak maupun suami. Disinilah saya ingin menekankan bahwa ibu memang tidak harus sempurna. kesempurnaan itu hanya milik Allah swt, mengejar kesempurnaan yang diluar kuasa kita hanya membuat lelah dan stres yang tidak berkesudahan. Padahal tuntutan yang ada di luar kuasa kita, memang sebaiknya tidak digenggam erat, lepaskan saja, ikhlas menerima apa adanya. Dengan begitu kita jadi menerima diri apa adanya, jadi lebih bisa look in untuk melihat ke dalam diri kita, menyadari bahwa kita ini limited edition, kita ini juga bintang yang bersinar. Sehingga tidak perlu merasa terintimidasi ketika orang lain sudah berkibar dengan kesuksesan diri, anak maupun keluarganya.


5. Bagaimana pendapat teteh mengenai working mom vs full time mom, ASI vs Sufor, Normal vs CS, Schooling vs Homeschooling, karena menurut sebagian orang salah satunyalah yang terbaik

Setiap orang punya standar terbaik sendiri yang ga harus sama dengan orang lain. Apapun pilihannya, sah dan baik-baik saja. Karena mereka sudah mempertimbangkan dan lebih paham dengan kondisi masing-masing. Yang tidak baik itu justru yang ribut mempermasalahkan pilihan-pilihan tersebut tanpa juntrungan yang jelas. Ujung-ujungnya jadi perang dan memecah belah orang-orang. Padahal ketika kita berkeluarga dan memiliki anak sudah seharusnya kita bersinergi untuk masa depan anak indonesia yang lebih baik. It takes a village to raise a child. Pada akhirnya yang terbaik adalah yang bersungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai orangtua.


Dunia ibu bukan kompetisi tentang anak siapa yang lebih cepat bisa berjalan, berlari, berkata bahkan membaca dan menulis. Karena ini seperti lari maraton, perjalanan panjang tentang bagaimana kita menangani diri sendiri sebelum menangani anak kita, bagaimana kita mau bersama-sama belajar dengan anak kita, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan kita. mungkin di perjalanan itu ada yang belakangan, ada yang duluan tapi yang harus kita yakini bahwa semua akan mencapai garis finish. Allah menilai proses bukan hasilnya. Maafkan diri sendiri, tidak perlu jadi ibu sempurna, jadilah ibu bahagia. -Wiwik Wulansari

Demikian sesi wawancara bersama Bubu (panggilan kesayangan anak-anak dan teman-teman terdekatnya). Sebagai penutup saya mengutip quotes dari Teh Kiki Barkiah, semoga membuat kita para ibu semakin kuat dan bersemangat. Bersyukur dengan segala kondisi masing-masing dan tetap bisa menjadi diri sendiri sesuai dengan tuntunan Illahi.

Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW., dalam pengasuhan anak, maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima bahwa kita bisa salah. Maka tidak perlu kita mengatakan "Kami merasa gagal menjadi orang tua," namun katakanlah "Bersama Allah kami bisa lebih baik lagi." -Kiki Barkiah

Inspirasi tulisan ~ Belajar Menjadi Tidak Sempurna, thanks Mba Noni ^_^


36 comments :

  1. Setiap anak punya keistimewaan sendiri2 ya mbak
    ga bisa dibanding2kan

    ReplyDelete
  2. Menurut saya.. setiap anak itu berbeda dan hanya si ibu yg paling tau yg terbaik utk anaknya. Bukan ngikut anaknya si ini si itu ya mba..

    ReplyDelete
  3. Setuju sekali....

    Hmmm noted mba


    Aku pengen banget merasakan punya anak dan merawatnya... Doakan aku segera punya momongan yah 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. semoga segera dan do waktu yg terbaik y mb ^_^

      Delete
  4. Suka banget kalimat "Setiap orang punya standar terbaik sendiri yang ga harus sama dengan orang lain" nice share mba ^^

    ReplyDelete
  5. Hihihihi, dulu awal2 ngasuh anak dan menyimpang dari teori, aku stres berat. Trus lihat postingan temen ttg milestone anaknya, aku baper berat. Sekarang bhay! Yang penting aku bahagiaaaa... Lalalalala..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, ngerasain juga. Idealisme tinggi harusnya begini begitu tralala.. skrg udah lega krn udh nurunin standar n pengen jd diri sendiri aja. Loe loe gw gw xixi

      Delete
  6. Keren...keren...Harusnya yaa gini ini. Keluarga bahagia, anak tak kurang suatu apa...ya sudah. Happy parenting Mbak...

    ReplyDelete
  7. ademm gt baca ini mbk, teh kiki keren, inspiratif, slamin ya mbk, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg sy wawancarain teh wiwik mb :D bukan teh kiki

      Tp klo ad kesempatan wwncara teh kiki insya Allah ya hehe

      Delete
  8. Saya termasuk ibu bahagia tapi sering (merasa) dibully karena tidak sesuai dengan standart ibu2 yang lain. :)

    Terima kasih sharingnya Mbak. Bisa mengurangi kebaperan saya ini :)





    ReplyDelete
  9. Aku juga punya tiga anak. Anak ketiga lahir ketika anak pertama berusia 3 tahun. ... pertama ya gitu deh semua serba dipikirin serba idealis, giliran anak kedua dan ketiga...aku bisa sabar aja udah alhamdulillah wkwkwk.... dan memang benar, meskipun mereka dilahirkan dari rahim yang sama dan dengan jarak yang berdekatan, mereka berbeda... jadi pinternya kita menghadapi perbedaan mereka dan bagaimana agar selalu bisa bersikap adil.

    ReplyDelete
  10. Ahh.....adem malem-malem baca tulisan Uni.
    Senangnya kalau kita bisa menjadi Ibu bahagia yang apa adanya bukan seadanya yaa..

    Terimakasih Uni inspirasinya.
    Bubu Wiwik....keren selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg apa adanya, bukan seadanya.. saya suka saya suka :D

      Delete
  11. Wah..persiapan mbak Wiwik menyambut kelahiran bayinya, komplit banget ya... Keren, deh.
    Memang benar juga, kita adalah limited edition yang harus bisa semakin cemerlang tanpa perlu merasa khawatir dengan kesuksesan orang lain ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya aj langsung bilang ck.. ck.. ck.. mb :D

      Delete
  12. Uni..daku meleleh bacanya :'( makasih Uni & bubu..

    ReplyDelete
  13. Mba, mungkin maksudnya ortu saling membanggakan anaknya ya. Tapi malah jadi adu kompetisi ya. Yang penting anak sehat, kalau dengar ini itu mah nggak ada habis2nyaa :)

    ReplyDelete
  14. Tak perlu jadi Ibu Sempurna, tapi jadilah Ibu yang paling mengerti dan memahami karakter anak bahwa setiap anak mempunya keistimewaannya masing2.
    *sok bijak banget eykeh yaa :v

    ReplyDelete
  15. Betul, harusnya kita saling belajar bukan malah berkompetisi dan saling nyinyir. Harusnya bisa saling dukung biar sama sama sukses jadi orangtua

    ReplyDelete
  16. Makasih sharingnya ya Mba.. Menginspirasi banyak ibu2 nih..

    ReplyDelete
  17. salam kenal bund,saya merasakan banyak kesamaan dengan bunda bahkan berasanya jadi istri dan ibu itu ketika sudah melahirkan.

    ReplyDelete
  18. Hihi..saya sama dengan si teteh. Anak ke dua ini terasa lebih "nyantai". Awalnya agak gimanaaa gitu, khawatir dianggap membeda-bedakan. Ternyata setelah saya cermati, semua bermula daei perbedaan karakter.
    Jangankan karakter, bentuk tubuh anak pertama b kedua saja bisa berbeda koq. :)

    Jadi memang antara anak 1 dg yang lainnya ngga bisa dibanding-bandingkan. :)

    ReplyDelete
  19. SETUJUU... dunia ibu tidak perlu deh saing2 saingan mana yang lebih hebat. yang penting berikan yang terbaik untuk keluarga

    ReplyDelete
  20. setuju mbak, jangan mengejar kesempurnaan yang terpenting kebahagiaan :)

    ReplyDelete
  21. Wow, well prepared banget ya si tetehnya, semua sudah dipersiapkan dr awal. :) Kalo jaman saya dulu, learning by doing semua. Hehe. Alhamdulillahnya sih, mostly, things run smoothly.

    Yup, setiap anak adalah istimewa, dan mereka bukanlah bahan kompetisi.

    What an inspiring post! TFS, Mba. :)

    ReplyDelete
  22. Artikel adem :') Saat ini saya sedang mengandung anak kedua dengan usia kehamilan 23 minggu dan anak pertama 10,5 bulan *tegak kepala* Hahaha. Malu? Engga? Komentar? Banyak *-*

    Bismillah dari artikel ini saya belajar bahwa menjadi ibu itu bukan soal sempurna, tapi soal kesiapan menerima baik menerima kemampuan dan kecerdasan anak, menerima diri sendiri, menerima semuanya. Semoga Allah ridho dengan apapun yang kita lakukan. Itu saja :')

    ReplyDelete
  23. Samaaa mba, aku pun merasakan yg ini juga. Tp aku mah bodo amat, anggap orang2 kyk gtu hanya sekedar hiburan

    ReplyDelete
  24. Keren artikelnya, jadi semangat lagi

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^