SOCIAL MEDIA

Sunday, 9 October 2016

Orang Tua Sumbu Pendek, Sayakah?



ibubahagia.com - Pernah dengar istilah tantrum bu? Salah satu penyebabnya, biasanya karena anak belum bisa mengkomunikasikan perasaan atau keinginan mereka dengan baik. Nah jika yang terjadi sebaliknya gimana ya? Orang tua yang belum bisa mengkomunikasikan perasaan atau keinginan mereka dengan baik. Biasa mengomel, berteriak dan membentak. Bolehlah orang tua demikian diberi predikat orang tua sumbu pendek.



Apakah saya termasuk orang tua sumbu pendek? Kadang ya kadang tidak. Makanya nih, dalam rangka proses belajar menjadi seorang ibu yang profesional, saya mulai mencari referensi. Karena saya menyadari efek buruk memiliki bapak bersumbu pendek. Tak ingin mengulangi kisah yang sama pada anak, maka saya harus mencari solusinya.



Biasanya orang tua sumbu pendek (OTSP) beralasan,

"Kalo anak enggak dikerasin, mereka enggak mau dengerin omongan kita."

"Satu dua kali dibilangin enggak mau denger, yang ketiga ya dikerasin."

"Biar mereka patuh, ya harus dikerasin."

Yakin patuh? Patuh atau takut? Dan biasanya lagi, OTSP sering memarahi dalam kondisi enggak fokus sama anak. Misal, anak pertama dengan yang kedua berantem. OTSP langsung aja nih main marah enggak jelas. Marahnya nyambi pegang henpon atau nyambi nonton tv. Atau lagi ngerjain pekerjaan rumah tangga. Maunya konflik antar anak cepat selesai, rumus marah-marah enggak jelas pun keluar.

Padahal dalam kondisi demikian diperlukan kesediaan waktu khusus, karena orang tua perlu menganalisa, 5W+1H. Rempong banget sih? Begitulah, masa Golden Age enggak bisa diabaikan begitu saja. Masa di mana pertumbuhan sel saraf di otak mereka bertumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Pernah dengar kan kalau anak sering dihardik bisa menyebabkan sel saraf di otak mereka putus? Berapa banyak sel saraf yang putus akibat dari kerasnya kita pada anak. Selain itu juga akan berdampak pada penurunan rasa percaya diri, trauma bahkan depresi.

"Hasil penelitian Lise Eliot, PhD Neuroscientist, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan, suara keras dan bentakan yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak anak yang sedang tumbuh. Dan sebaliknya, pada saat ibu memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah."



Pada dasarnya yang diperlukan orang tua adalah bertindak tegas, bukan keras. Karena kedua hal tersebut sangat jauh berbeda. Seperti yang Abah Ihsan bilang, 

"Ketegasan tidak diukur dari seberapa tinggi volume suara kita pada saat membentak anak, atau seberapa sering kita memukul anak. Ketegasan hanyalah soal konsistensi serta kesesuaian antara ucapan dan tindakan kita pada anak. Konsistensi di sini artinya, kita memegang teguh yang sudah disepakati dan memberikan batasan-batasan yang jelas kepada anak."

Selain itu yang perlu diperhatikan, ternyata berbicara dengan anak ada caranya. Berikut saya kutip, 10 Tips Berbicara Pada Anak menurut Psikolog Innu Virginia yang beliau sampaikan pada Kuliah Whats App Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara:
  1. Perhatikan anak sebelum memberi instruksi dan panggil menggunakan namanya. Sebelum mengarahkan anak, posisikan tubuh selevel dengan mata anak dan beri ia kontak mata-ke-mata untuk mendapatkan perhatiannya. Ajari anak untuk fokus.
  2. Bicara sesingkat dan sesimpel mungkin dengan instruksi positif. Gunakan satu kalimat aja. Mulai pembicaraan dengan inti dari perkataan kita. Semakin lama kita mengoceh, semakin besar kemungkinan anak untuk tidak mendengarkan.
  3. Tawarkan sesuatu yang enggak bisa ditolak oleh anak. Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang anak dan yang sulit ia tolak.
  4. Bertindak dulu baru berbicara. Kita tunjukkan bahwa kita serius dengan permintaan kita, kalau enggak anak akan menafsirkan ini sebagai pilihan aja.
  5. Beri anak pilihan. "Mau ganti baju atau sikat gigi dulu?" "Baju merah atau biru?"
  6. Bicara sesuai perkembangan anak. Semakin muda anak, instruksi harus sesingkat dan sesederhana mungkin.
  7. Bicara dengan kata-kata yang baik dan suara halus. Ancaman dan perkataan yang menghakimi cenderung membuat anak bersikap defensif.
  8. Pastikan anak tenang. Sebelum memberikan perintah, pastikan anak tidak sedang emosional. Andak tidak akan mendengarkan jika ia sedang emosional
  9. Ulangi perkataan kita. Balita perlu diberitahu berkali-kali karena mereka masih seiring mengalami kesulitan menginternalisasi arahan orang tua. Mereka baru belajar memahami perintah.
  10. Gugah emosi anak dalam berkata-kata. Biarkan anak berpendapat & dengarkan dengan seksama, berikan hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya, sewaktu-waktu ungkapkan rasa cinta secara verbal, dan berikan pujian setiap kali anak melakukan hal yang diharapkan.
Sudahkah kita melakukan 10 tips di atas? Jujur saya belum semuanya, hehe. Next, insya Allah semangat berusaha sabar dan melaksanakannya. Intinya, berkomunikasi dengan anak memang harus siap sedia meluangkan waktu dan fokus enggak disambi-sambi, agar tujuan yang kita inginkan  bisa tercapai.

Gambar: news.okezone.com

Tapi kan memang ada saatnya anak-anak harus dimarahi atau dihukum? Ya, jika anak memang pantas untuk dihukum karena kesalahan yang mereka perbuat, menurut Ustadz Fauzil Adhim ada Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Memberikan Hukuman, diantaranya:
  • Menghukum anak bukan sebagai luapan emosi, apalagi sebagai pelampiasan rasa jengkel karena perilaku mereka yang memusingkan kepala. Segala sesuatu berawal dari niat. Tampaknya sepele, tetapi yang sepele ini mempengaruhi sikap kita, dan cara kita bersikap akan mempengaruhi penerimaan anak. Perilaku kita juga akan lebih terkendali.
  • Menghukum merupakan tindakan mendidik agar anak memiliki sikap yang baik. Artinya, hal terpenting dalam menghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabkan anak dihukum. Jika anak menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya, orang tua perlu memberi umpan balik yang positif. Bukan justru memberikan tekanan mental.
  • Tindakan memberi hukuman adalah dalam rangka mengajari anak bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi. Orang tua menghukum anak bukan karena marah atau membalaskan kejengkelan. Juga bukan untuk mempermalukan anak.
  • Hukumlah, tetapi jangan sakiti anak. Seringkali kita bermaksud menghukum anak, tetapi yang terjadi sebenarnya adalah menyakiti hati anak. Kita memojokkan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Atau, kita menghujani anak dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, meskipun anak sudah menunjukan itikad baik.
  • Tetaplah berpikir jernih saat menghukum anak. Keputusan-keputusan yang baik dapat kita ambil hanya ketika pikiran kita jernih.
  • Kasih sayang mendahului kemarahan. Meskipun kita memberi hukuman kepada anak, tunjukkanlah bahwa kita melakukannya karena didorong oleh rasa cinta dan kasih sayang. Imbasnya, jangan berat hati untuk mengusap kepala mereka atau mengecup keningnya dengan mesra ketika mereka menunjukkan keinginan untuk memperbaiki diri. Tunjukkanlah kasih sayang sesudah menghukum, meski hati masih bergemuruh karena rasa jengkel yang belum pergi.

Lantas Bagaimana Cara Menghukum Yang Tepat?

Cara unik dari Bu Irawati Istadi dalam bukunya "Mendidik Dengan Cinta," diantaranya:

- Pelaku dan perilaku.
Orang tua hendaknya terlebih dahulu harus bisa membedakan antara "pelaku" dan "perilaku." "Pelaku" adalah individu anak yang sedang melakukan sesuatu, sedang "perilaku" menggambarkan kegiatan yang sedang dilakukannya. Kedua, orang tua memahami bahwa antara pelaku dan perilaku tidak selalu mempunyai konotasi yang sama. Contohnya, Kakak memukul kucing, Kakak sebagai pelaku dan perilakunya adalah memukul kucing. Pemukulan kucing merupakan tindakan yang buruk, tapi bukan berarti berkonotasi secara langsung bahwa Kakak adalah anak yang buruk. Orang tua tidak boleh memberikan konotasi buruk kepada pelaku. Seburuk apapun perilaku mereka, orang tua hanya boleh berprasangka bahwa saat itu anak sedang khilaf, teledor atau lupa sehingga melakukan perilaku buruk, tetapi pada hakikatnya anak tetaplah baik, anak yang shaleh yang kelak akan kembali menunjukkan perilaku yang baik.



- Citra Diri Positif
Anak-anak harus meyakini bahwa diri mereka adalah anak yang baik. Ketika marah, orang tua jangan sampai mengeluarkan kata-kata keji yang menjatuhkan citra diri positifnya. Ketika mereka tidak mengerjakan PR, jangan sebut pemalas, bebal apalagi bodoh. Jika anak sering mendengarkan kata-kata tersebut, anak pun bisa meyakini kebenaran bahwa mereka memang anak yang pemalas dan bodoh.



- Teguran Satu Menit
>> Setengah Menit Pertama: Tegur Perilakunya.

>> Setengah Menit Kedua: Hargai Pelakunya



Teguran satu menit ini mempunyai banyak kelebihan. Pertama, melatih disiplin anak-anak untuk bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Dalam setengah menit pertama, anak mengerti bahwa tindakannya yang buruk telah membuat orang tuanya kecewa dan marah. Mana perilaku yang disenangi orang tua dan mana yang enggak. Di setengah menit kedua, anak segera menemukan citra dirinya yang positif sebagai anak yang baik. Jika sudah selesai, permasalahan ini enggak diulang-ulang lagi, enggak boleh lagi ada perasaan marah yang tersisa.

Ah, enggak mudah memang. Jika sebuah profesi saja dibutuhkan jenjang pendidikan berpuluh tahun lamanya, bagaimana dengan menjadi orang tua? Kebanyakan cara kita menyelesaikan masalah adalah dengan menilik pola asuh masa lampau yang kadang tidak kita inginkan, tapi di waktu-waktu emosional bisa keluar dengan sendirinya.

Cukuplah Allah sebaik-baik penolong. Proses yang enggak mudah insya Allah menghasilkan pahala yang melimpah. Meski kekhilafan bisa saja terjadi, tapi semoga dengan semangat untuk selalu memperbaiki diri, menerima dan memaafkan masa lalu bisa membuat kita menjadi orang tua yang lebih baik lagi dalam menyikapi perilaku anak-anak kita. Aamiin. Mari sama-sama semangat menjauhi predikat orang tua sumbu pendek! ^_^

43 comments :

  1. Whuaaa...Masih jauh dari semua di atas, saya masih orangtua sumbu pendak, nih

    ReplyDelete
  2. Wah aku masih banyak x harus belajar, mengendalikan emosi, mendidik anak

    ReplyDelete
  3. Dulu, orang tuaku termasuk sumbu pendek. Sempet kesel bahkan sampai ngerasa kayak benci sama orang tua. Tapi makin kesini aku sadar, semua mereka lakuin karena bingung ngungkapin perasaan kalau sayang banget sama anaknya. Semoga kelak aku gak kayak gitu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. bener mba, dulu jarang banget seminar2 parenting, jd cara/pola asuh ya menurut ortu kita atau ujung2nya hasil warisan juga. Semoga yg belum baik berhenti di kita, jgn sampe k anak2 kita

      Delete
  4. Bookmarked!
    Semoga bisa terus belajar nih. Makasih sharingnya, Mba.

    ReplyDelete
  5. Bookmarked jugaaa.. Thanks for sharing Mba.. Saya juga suka beralibi nih, sesekali anak perlu dikerasi biar ngerti.. Padahal salah ya begitu.. Tegas berbeda dengan Keras. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, dulu saya jg suka gitu. Tp setelah nyoba tegas tanpa keras, eh bisa Alhamdulillah

      Delete
  6. Penting buat saya terapkan. Memang butuh konsistensi dan kesabaran menghadapi anak.

    ReplyDelete
  7. ngadepin keponakan aja kadang jengkel sendiri hehehe, sumbu pendek kali nih aku juga :-D
    apalagi nanti kalo punya anak aduh, harus belajar sabar banget.

    ReplyDelete
  8. woaahh berguna banget nih artikelnya, kayaknya saya masih sumbu pendek deh..hikss. Oiya cara memposisikan tubuh selevel dengan mata anak ini dilakukan Kate Middleton ke anak2nya, sampe2 Ratu Elizabeth katanya marah karena gaya Kate itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wohooo itu toh masalahnya. Sempat liat d fb tp ga tau masalahny apa. Kate middleton kereeeeen

      Delete
  9. Huhuhu... Saya banget ini. Padahal anak udah 4. Ada yg udah besar pula. Tapi masih bersumbu pendek. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Masya Allah udah 4 mba nia, kereeen...

      Delete
  10. Merasa tertampar dengan tulisan ini. Iya kadang sering beraumbu pendek ini, namun lain waktu sekuat mungkin mencoba untuk bersabar dan kadang berhasil kadang enggak. Semoga selalu dikuatkan untuk senantiasa mampu bersikap bijak pada anak. Thanks atas artikel yang mencerahkan ini Mbak.

    ReplyDelete
  11. Trims mba.. setuju banget. Yang penting tegas ya bukan keras. Dan saya masih harus terus belajar untuk tak jadi ortu sumbu pendek..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sama2.. sy juga masih belajar :)

      Delete
  12. Makasih sharingnya ya mba...bekal saya buat hadapi anak tantrum

    ReplyDelete
  13. Noted banget inii.. walaupun belum punya anak krn masih single.. tapi sering berhadapan dengan keponakan, jadi lebih bisa ngerem sihhh habis baca ini.. tengkyu, mbak, buat sharingnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar dr keponakan dl y mba :) semangat. Sama2

      Delete
  14. Bagus sekali sharingnya. Makasih Mak...

    ReplyDelete
  15. Waah kece banget sharingnya mbaa...makasih yaa.
    Sy klo lg capek sumbunya memendek terus nih *tepok jidat.
    Kadang susah bedain antara tegas dan keras

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mba ophi.. semangat belajar mba

      Delete
  16. Duh, aku banget deh ini. Kalo marahin anak nyambi melakukan hal yg lain, trus merembet kasus2 lama. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi,, tos mba. Tp skrg udh berusaha klo perlu komunikasi apapun sm anak stop dulu aktifitas ini itu

      Delete
  17. Makasih sharing tips nya mbq, berguna bgt buat aku yg kadang ngga sadar sumbu pendek. Huhu

    ReplyDelete
  18. Ilmunya mnafaat ini mbak. Emang anak klo smakin dikasari, dia akan smakin down,
    Aku baru tau istilah Orangtua Sumbu Pendek ini mba hee

    ReplyDelete
  19. whoaa, baru tahu kalo sumbu pendek itu artinya cepat meledak. saya masih termasuk hiks hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. semangat belajar lbh baik mb liza

      Delete
  20. Harus banyak belajar untuk gak jadi orangtua sumbu pendek, nih! Memang butuh proses yang panjang ya... Cukup Allah sebaik-baik penolong. ^_^

    ReplyDelete
  21. Bener mba, sampe skrg pun masih belajar.. Allah sebaik2 penolong ;)

    ReplyDelete
  22. Tip di atas, bisa diterapin untuk keponakan, kan ya?

    ReplyDelete
  23. Postinganmu ini sangat inspired mbK, sbagai remainder utk lebih bersikap baik dan bijaksana sbg orangtua masa kini* baru tahu ada istilah ortu sumbu pendek☺

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^