SOCIAL MEDIA

Sunday, 11 December 2016

Menyapih Tanpa Kehadiran Suami, Bisakah?

Gambar: kesehatanaz.com

Menyapih tanpa kehadiran suami - Masih segar dalam ingatan saya, hampir setahun yang lalu berjuang menyapih anak kedua dengan cinta tanpa kehadiran suami. Yup, kami sempat Long Distance Marriage. Suami pindah tugas ke Padang dan saya belum bisa melanjutkan mendampingi suami tugas di sana karena sakit. Jadi saya tinggal dengan orang tua di Bandung.

Berbagai macam rasa menyelimuti, mampukah saya? Banyak cerita dari teman, akan lebih mudah dalam menyapih jika ada bantuan dari suami. Misal saat anak kebangun pas malam hari, Ibu kudu ngumpet dulu, Ayahlah yang turun tangan menghandle anak di saat anak merengek minta nen, ngasi anak susu pengganti seperti susu uht atau air putih. Trus saya harus gimana? Haruskah menggunakan teknik-teknik jadul, ngasi segala yang nggak enak di puting biar anak enggak lagi tertarik menyusui? Atau tetap teguh dengan cara menyapih dengan cinta?

Teknik jadul yang dilarang dalam menyapih:

  • Mengoleskan obat merah pada puting
  • Memberi perban atau plester pada puting
  • Dioleskan jamu brotowali atau kopi supaya pahit
  • Menitipkan anak ke rumah Kakek Nenek-nya
  • Selalu bersikap cuek setiap anak menginginkan ASI.

Kenapa dilarang? Dampaknya beragam. Mulai dari bisa menyebabkan keracunan, anak merasa ditolak, nggak disayang, dan merasa dibohongi/ditipu.

Menyadari akan buruknya efek teknik jadul, bismillah saya mantap melangkah dengan WWL. Meski lewat sekitar 2 tahun 1 minggu, karena pas udah mau berhasil di usia 2 tahun, Ayesha sakit dan saya nggak tega nyetop. Sembuhin dulu, baru berjuang lagi. Dan Alhamdulillah akhirnya berhasil.

6 Hal yang saya lakukan adalah:

  1. Berdo'a. Yoi, kemana lagi kan mau minta pertolongan. Minta agar Allah mudahkan proses penyapihan meski harus berjuang sendirian.
  2. Sounding dari usia sekitar 1.5 tahun. Sering-sering bilang apalagi pas momen menyusui, ntar kalo udah 2 tahun enggak boleh mimik lagi.
  3. Mulai mengurangi frekuensi menyusui. Do not offer, do not refuse (jangan menawarkan, tetapi jangan menolak jika anak meminta). Ini dilakukan sebelum Ayesha berusia 2 tahun.
  4. Konsisten. Saat bilang enggak boleh mimik ya enggak boleh. Tombol tega kudu ON. Babak drama baru dimulai.
  5. Sabar & Optimis bakal berhasil. Karena kalau diingat-ingat terus, "Ada suami bakal lebih mudah nih." "Coba ada suami, bla.. bla.." Mungkin masa penyapihan bakal lebih panjang lagi.
  6. Sosialisasi dengan keluarga. Jangan sampai tiba-tiba heran kenapa si anak jadi sering rewel atau cengeng. Minta pengertian mereka jika anak sedang dalam masa penyapihan.
Pada dasarnya enggak beda dengan cara WWL kebanyakan. Hanya kalau enggak ada suami di samping kita, ya kudu ekstra sabar dan rasa optimisnya lebih diperbesar lagi. Yakin insya Allah pasti bisa. Semangat ya buibu! Menyapih tanpa kehadirann suami di sisi insya Allah bisa kok, *senyum.