SOCIAL MEDIA

Sunday, 3 December 2017

Materi Kulwap #1: Pentingnya Menjaga Iman & Manfaatnya Bagi Keluarga

02/12/17 - Happy Mom Squad (Dilarang Mengcopypaste materi. Jika ingin share di medsos, silahkan copy paste linknya saja. Terimakasih ^ ^)


Pentingnya Menjaga Iman & Manfaanya Bagi Keluarga

Oleh: Dyah Wulandhari


Bagian #1

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertakwa 
Iman tak dapat dijualbeli..
Ia tiada di tepian pantai.. 
Walau apapun caranya jua.. 
Engkau mendaki gunung yang tinggi.. 
Walau merentas lautan api 
Namun tak dapat jua dimiliki 
Jika tidak kembali pada Allah..

Iman adalah mutiara.. 
Di dalam hati manusia 
Yang meyakini ALLAH.. 
Maha Esa, Maha Kuasa 
Tanpamu iman.. Bagaimana lah..

Menurut Ibunda Aisyah Radhiyallahu anha, Iman adalah sesuatu diucapkan oleh lisan, yang diyakini dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan.

Dalam meyakini iman, dikenal beberapa tingkatan diantaranya adalah:

Muslim: orang mengaku islam, kadar keimanannya termasuk yang terendah, sebatas pengakuan Allah sebagai tuhan yang esa, belum ada bedanya dengan iblis yang juga meyakini bahwa Allah adalah maha esa. Karena tidak mewujudkan nya dengan perbuatan, dia memandang perintah sujud kepada Adam, dari sisi lahiriahnya. Padahal sejatinya itu adalah perintah Allah.

Mu'min: orang beriman, yang mengkaji syariat Islam sehingga meningkat wawasan keislamannya dan karena wawasan itu bertambah rasa takutnya kepada Allah.

Muhsin: orang yang memperbaiki segala perbuatannya agar menjadi lebih baik.

Mukhlis: orang yang ikhlas dalam beribadah, hidupnya hanya untuk mengabdikan kepada Allah

Muttaqin: orang yang bertakwa, tingkatan ini adalah yang tertinggi di antara tingkatan lainnya.

Posisi iman dalam diri manusia berada di hati. Yang mana, dalam hati tidak hanya berisi bashirah, kecenderungan berbuat baik, namun ada juga Nafsu, selain ra'yu (logika),  syu'ur (selera) , rasa dan nurani. Sehingga tidak serta merta niat dalam hati dapat membuat seseorang menjadi orang yang beriman. Karena ada tuntutan lain sebagai konsekuensi dari keyakinan nya, yaitu ALLAH akan tanya, apa buktinya?

Allah SWT berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا  يُفْتَـنُوْنَ
a hasiban-naasu ay yutrokuuu ay yaquuluuu aamannaa wa hum laa yuftanuun

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?"
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 2)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Di dalam Al Qur'an ada paling tidak 69 kata iman yang diikuti oleh syarat dan ketentuannya.

Diantaranya, jika kamu beriman... 


الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ 
allaziina yu`minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, *melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka* ,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3)


وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَۤا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ     اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ  وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ 
wallaziina yu`minuuna bimaaa unzila ilaika wa maaa unzila ming qoblik, wa bil-aakhiroti hum yuuqinuun

"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan *mereka yakin akan adanya akhirat* "
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4)



يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanusta'iinuu bish-shobri wash-sholaah, innalloha ma'ash-shoobiriin

"Wahai orang-orang yang beriman! *Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat.* Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. "
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)


يٰٓاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا کُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kuluu min thoyyibaati maa rozaqnaakum wasykuruu lillaahi ing kuntum iyyaahu ta'buduun

"Wahai orang-orang yang beriman! *Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah* jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 172)


لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰٓئِکَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ  وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ ۙ  وَالسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ ۚ  وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّکٰوةَ   ۚ  وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا  ۚ  وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ  اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
laisal-birro an tuwalluu wujuuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa laakinnal-birro man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wal-malaaa`ikati wal-kitaabi wan-nabiyyiin, wa aatal-maala 'alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiina wabnas-sabiili was-saaa`iliina wa fir-riqoob, wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaah, wal-muufuuna bi'ahdihim izaa 'aahaduu, wash-shoobiriina fil-ba`saaa`i wadh-dhorrooo`i wa hiinal-ba`s, ulaaa`ikallaziina shodaquu, wa ulaaa`ika humul-muttaquun

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)


يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alallaziina ming qoblikum la'allakum tattaquun

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)



وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa`alaka 'ibaadii 'annii fa innii qoriib, ujiibu da'watad-daa'i izaa da'aani falyastajiibuu lii walyu`minuu bii la'allahum yarsyuduun

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)


Ini hanya beberapa syarat seseorang dikatakan beriman. Dan syarat inilah yang harus menjadi target utama kita agar bisa kita capai bersama keluarga.

Ujian keimanan, banyak juga disebutkan dalam Al quran, diantaranya Allah pasti menguji dengan ketakutan, sedikit harta, rasa lapar, kehilangan jiwa dan kelemahan.

اۨلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ  عَمَلًا   ۗ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ  
*yang menciptakan mati dan hidup*, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,
Al-Mulk : 2



Bagian #2


Keyword kedua, Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ  ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
wa laqod makkannaakum fil-ardhi wa ja'alnaa lakum fiihaa ma'aayisy, qoliilam maa tasykuruun

"Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) *sedikit sekali kamu bersyukur*
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 10)

Jika pada awalnya kita berpikir bahwa anak dan suami adalah sumber kebahagiaan kita. 

Mengapa saat ini, justru banyak kita temui para ibu dan istri yang berusaha kesana kemari mencari kebahagiaan?? 

Apa sebenarnya kebahagiaan??

Wikipedia menjelaskan, Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Lalu pada bagian mana para ibu dan istri menjadi merasa kurang bahagia? 
Atau bahkan merasa tidak bahagia? 

Apa sesungguhnya kebahagiaan sejati bagi seorang wanita muslimah dan ummahat shalihat?

Ummahatul Mukminin, Bunda Khadijah Radhiyallahu anha, menjelang wafat mengatakan pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, jika kelak engkau akan mendakwahkan islam, menyebrangi lautan untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada manusia yang lainnya dan tak kau temui harta yang bisa aku tinggalkan, ambillah tulang belulangku, kau jadikan perahu.

Sementara penghulu syurga dari kalangan wanita yang lainnya, Fatimah Az Zahra merasa tenang hanya dengan senantiasa melafadzkan dzikir setelah shalat. Tak jarang ia makan dengan tanggungan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, berhutang pada pemilik barang yang kemudian dibayarkan oleh Ayahanda Tercintanya.

Atau Asiyah binti Muzahim istri Fir'aun, ia tidak pernah merasakan kenikmatan berdua-dua menengadahkan tangan kepada Allah bersama suaminya. Karena sang suami sama sekali bukan imam ia bahkan mengatakan dirinya *ana, robbukumul a'la*.

Tetapi tidak kemudian menjadi alasan untuk Asiyah mundur dari kebahagiaan, dia menjadi salah satu penghulu syurga kaum wanita.

Yang terpenting, Ibunda Maryam binti Imran, beliau hamil dan melahirkan hingga membesarkan anak seorang diri tapi tidak sedikit pun beliau mengingkari kebaikan dari Rabb nya.

Para wanita hebat ini, bahagia dengan definisi yang sejati.

Allah SWT berfirman:

وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ  ۗ  وَلَـلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ  اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa la'ibuw wa lahw, wa lad-daarul-aakhirotu khoirul lillaziina yattaquun, a fa laa ta'qiluun

*Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau*. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"
(QS. Al-An'am 6: Ayat 32)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com



Bagian #3


Jika seorang wanita menginginkan kebahagiaan sejati dalam hidupnya, hendaklah ia mempergunakan segenap potensi yang dimiliki nya untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna.

Sementara bagi seorang muslim, kebahagiaan yang hakiki bukan sebatas pada hal yang terindera, karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini merupakan perlintasan menuju kehidupan yang abadi.

Maka janganlah ia menjadikan sesuatu yang sementara ini *menjadi lebih penting dari tujuan hidup yang sebenarnya*

Seorang ummahat shalihat dan istri shalihah, hendaknya dapat mendefinisikan kebahagiaan sesuai dengan perintah Allah atas dirinya, menjadikan standar kebahagiaan nya, tidak dapat digoyahkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi dan kecil saja.

Allah SWT berfirman:

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَـنَّةِ زُمَرًا ۗ   حَتّٰٓى اِذَا جَآءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا  سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ
wa siiqollaziinattaqou robbahum ilal-jannati zumaroo, hattaaa izaa jaaa`uuhaa wa futihat abwaabuhaa wa qoola lahum khozanatuhaa salaamun 'alaikum thibtum fadkhuluuhaa khoolidiin

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya *diantar ke dalam surga secara berombongan* Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 73)


Bahagia bukan sesuatu yang AUTO dia rasakan dan bisa off kapan saja.

Seorang ummahat shalihat berusaha agar, segenap potensi nya, antara bashirah, ra'yu, syu'ur dan dzauq nya seluruhnya bisa bergerak bersama mencapai kebahagiaan yang sejati.

Jika seorang ummahat shalihat telah menggantungkan definisi kebahagiaan nya pada sesuatu yang tinggi dan abadi maka segala sesuatu yang bersifat duniawi menjadi ringan dalam pandangan nya.

Ia akan lebih disibukkan dengan hal yang hakikat bukan sebatas seremonial.

Sehingga keluarga menjadi jembatan nyata baginya mencapai kebaikan dan keridhaan Allah.

Tak ada yang dia khawatirkan kecuali pandangan Allah atas amalan yang dilakukan nya.

Jika sang Ibunda telah memiliki sumber kebahagiaan sejati, insyaallah keluarga akan mendapatkan generator kebaikan yang tak mudah padam.

Wallahu a'lam bish shawab

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Sejak medio tahun 2015, saya aktif mengisi kuliah via WhatsApp di berbagai komunitas lintas minat.  Saya aktif menyampaikan tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Terutama untuk usia dini. Selama masa menyampaikan informasi ini, makin banyak orang tua yang antusias. Dan menurut saya pribadi, ini sangat baik mengingat latar belakang pendidikan para ibu muda ini juga sangat lebih dari cukup untuk membentuk generasi Islam dambaan ummat di masa datang.

Pertanyaan demi pertanyaan seputar kebutuhan informasi pembelajaran ini membuat kami merasa perlu memberikan suatu *bantuan* yang aplikatif demi membantu lebih lanjut mengenai pembelajaran anak di rumah *oleh orang tua nya*

Kami berusaha agar para orang tua lebih banyak melihat amanah pendidikan ini sebagai tanggung jawab dunia akhirat bukan hanya semata masalah kognitif,  motorik dan psikomotor (pemenuhan kebutuhan fisik) kami mencoba menyajikan informasi yang menyeluruh untuk membantu mengembangkan kompetensi anak sesuai usia dan yang utama, sesuai kehendak Rabb nya. Maka materi dalam program yang kami tawarkan bukan hanya menyentuh aspek kognitif saja, lebih jauh, kami juga menyediakan fasilitas untuk pemberdayaan orang tua agar *perlahan* menyadari tugas besar nya sebagai orang tua.

kami bersinergi dengan para lulusan PGPAUD, Psikologi, Teknologi Pendidikan dan Kurikulum serta para praktisi Pengasuhan dan Homeschooling Islami untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi perbaikan kualitas orang tua dan pendidikan anak di keluarga muslim, Indonesia. Saya kira, banyak diantara kita memiliki banyak persamaan persepsi mengenai hal ini.

Mengingat potensi para ibu muda ini sangat krusial bagi perbaikan kualitas dan mutu generasi muda muslim kita. Sayang apabila potensi ini tidak kita bantu arahkan pada sesuatu yang positif. Daripada para ibu muda ini menggunakan medsos untuk suatu hal yang banyak mudharat nya. Masih lebih baik jika mereka gunakan untuk bermuamalah, berdagang.

Syukran jazakillah khayr


*Dyah Wulandhari,*

Penggagas Sahabat Anak Indonesia.
Lahir di Bandung, 32 tahun yang lalu. Saat ini diamanahi 3 anak. Bertempat tinggal di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Bunda dapat menghubungi saya di Instagram dan Facebook dengan nama, Dyah Wulandhari ummu umar. Adapun alamat website saya di sahabatanak-indonesia.com

No comments :

Post a Comment

Jazakumullah atas komentarnya ^_^