SOCIAL MEDIA

Tuesday, 26 June 2018

Inilah Alasan Kenapa Rokok Harus Mahal


Sejak kecil, saya sering dimintai tolong Papa ke warung untuk membeli rokok. Karena masih kecil tentu saya belum paham apa bahaya rokok. Hingga kemudian saat saya beranjak kuliah, Papa pun terkena stroke. Dan itu nggak hanya berlangsung sekali, tapi beberapa kali. Dari menggunakan tongkat hingga kursi roda. Sedih.... Meski beliau hobi berolahraga (rutin bersepeda), ternyata nggak menjamin bakal aman dari penyakit karena beliau juga hobi merokok. Sejak stroke akhirnya Papa memutuskan untuk berhenti merokok, walau hingga akhir hayatnya beliau tetap nggak bisa jauh dari kursi roda. Dan nggak kerasa, ternyata udah 1.5 tahun beliau berpulang.

Itulah sekelumit kisah dari keluarga saya. Belum lagi kisah pahit perokok aktif dan pasif lainnya. Masih segar dalam ingatan, kisah Robby Indra Wahyuda sebagai perokok aktif sejak usia 6 tahun yang terkena kanker laring & paru-paru akhirnya meninggal dunia. Fajar Saputra yang hanya perokok pasif mengalami masalah paru-paru akhirnya meninggal dunia. Dan bayi yang sedang menghelat Aqiqah, meninggal dikarenakan asap rokok di acara Aqiqahnya. Semua berakhir meninggal dunia. Itu hanyalah segelintir kisah dari sekian banyak cerita kematian yang disebabkan oleh rokok.

Robby Indra Wahyuda
Pict: solo.tribunnews

Sejahat Itukah Rokok?

Nikotin yang terdapat di dalam rokok adalah zat dalam tembakau yang menyebabkan kecanduan. Zat tersebut merangsang berbagai reseptor nikotinik di dalam otak. Jalur-alur neural yang teraktivasi merangsang neuron-neuron dopamin di daerah mesolimbik yang tampaknya berperan dalam menghasilkan atau menguatkan efek sebagian besar obat-obatan kimia (Stein dkk., 1998). Di antara berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dan hampir pasti disebabkan atau diperparah oleh kebiasaan merokok dalam waktu lama adalah emfisema, yaitu kanker laring dan esofagus, dan juga kardiovaskuler/jantung.


pinterest

Konsekuensi Perokok Pasif

Sepasang kekasih yang hendak menikah, 1 bulan jelang resepsi, pasangan laki-laki meninggal dunia. Apa pasal? Ternyata beliau bukan perokok aktif, tapi pasif. Ia terkena imbas karena sering berinteraksi dengan para perokok aktif. Lain lagi kisah seorang bayi yang menghirup kepulan asap saat ia aqiqah seperti yang saya sebutkan di atas. Ya, ternyata bahaya merokok terhadap kesehatan nggak hanya terbatas pada mereka yang merokok. Asap yang berasal dari ujung rokok yang menyala, yang disebut asap tangan kedua (secondhand smoke) mengandung konsentrasi amonia, karbon monoksida, nikotin & tar yang lebih tinggi dibanding asap yang dihirup oleh perokok. Bahayanya setingkat dengan abses dan radon. Efeknya (Davidson dkk., 2006) mencakup:

  • Nonperokok (perokok pasif) bisa menderita kerusakan paru-paru, kemungkinan permanen, karena terpapar asap rokok dalam waktu yang lama. Mereka yang hidup bersama perokok memiliki resiko tertinggi. Kelainan paru-paru prakanker ditemukan pada mereka yang hidup bersama perokok. Selain itu, sebagian besar nonperokok sangat nggak suka bau asap dari tembakau yang terbakar, & beberapa di antaranya mengalami reaksi alergi terhadapnya.
  • Para nonperokok beresiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular.
  • Bayi yang dilahirkan oleh para ibu yang merokok selama kehamilan lebih mungkin lahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, dan cacat lahir.
  • Anak-anak dari orang tua yang merokok lebih mungkin mengalami infeksi saluran pernapasan atas, bronkitis, dan infeksi telinga bagian dalam dibanding anak-anak seusianya yang orang tuanya nggak merokok.

Rabu 20 Juni 2018 lalu ada live interaktif Talkshow Rokok Harus Mahal Ruang Publik KBR. Serial Rokok Harus Mahal diselenggarakan untuk mengingatkan bahwa harga rokok yang murah bisa membuat konsumsi rokok makin nggak terkendali, termasuk pada anak-anak dan keluarga miskin. Tema yang dibahas saat itu, "Selamatkan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) & Kelompok Miskin, Rokok Harus Mahal.

Salah satu Narasumber, Prof. Dr. Hasbullah Thabrany (Ketua Pusat Kajian Ekonomi & Kebijakan Kesehatan FKM UI) menjelaskan bahwa banyak orang yang merokok terbukti dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Bisa menyebabkan kerdil, pendek. Kalau kerdil otaknya, maka anak-anak nggak bisa jadi sumber daya, tetapi jadi beban masyarakat, beban negara, karena dididik pun susah. "Karena kapasitas otaknya, ibarat komputer, ini komputer, chipsnya Chip CPU masih pentium 1. Jadi kalau dididik dengan software yang sekarang ya hang, nggak bisa. Akibatnya bagaimana mau bersaing dengan bangsa-bangsa lain, ini resiko masa depan bangsa yang kita nggak pahami sekarang. Itu kan faktanya udah ada, misal kekuatan otak & fisik itu bergabung, kalau bicara soal sport, cek ajalah piala dunia, Indonesia masuk nggak?" Jleb nggak tuh, selama ini menghabiskan uang untuk rokok sementara kebutuhan untuk protein, & pendidikan terabaikan.

Prof. Dr. Hasbullah Thabrany juga menjelaskan bahwa mayoritas peserta JKN itu perokok. "Pada umumnya peserta yang disebut sebagai PBPU (Peserta Bukan Penerima Upah), jadi punya pendapatan sendiri seperti tukang ojek, petani, pekerja kasar yang nggak punya kantor, juga doyan rokok. Dan akibatnya klaimnya di BPJS paling tinggi." "Ini masalah besar, akhirnya dana di JKN yang memang terbatas, terserap oleh mereka yang perilakunya nggak baik, yang sudah kecanduan rokok. Kalau nggak ada kendali, maka ke depan, dana JKN akan semakin nggak memadai." lanjut Beliau.

Saya jadi flash back lagi, teringat dengan mantan asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumah. Suaminya seorang tukang yang pekerjaannya nggak tetap. Tapi merokok dan ngopi adalah hal yang wajib. Sementara anaknya masih sekolah dan sering sakit-sakitan. Ditambah dengan kebutuhan primer keluarga, mau nggak mau mantan ART saya ini harus mencari pekerjaan. Terbayang sudah, bagaimana peliknya kehidupan beliau. Ada atau nggak ada penghasilan sang suami, suaminya tetap harus merokok. Ada berapa banyak kasus semacam ini di negeri ini?


Apa yang bisa kita lakukan agar hal ini nggak semakin memburuk dan memakan lebih banyak korban?

Menurut Prof. Dr. Hasbullah dengan kondisi sekarang cara yang paling efektif dan sudah terbukti di dunia, telah diuji adalah dengan MENAIKKAN HARGA ROKOK. Insya Allah pelan-pelan dalam jangka waktu 20-30 tahun akan lebih terkontrol.

Dengan menaikan harga rokok, akan mempengaruhi daya beli masyarakat terutama ekonomi bawah. Anak-anak pun nggak akan sanggup beli. Karena pada kenyataannya rokok juga dikonsumsi anak hingga kakek-kakek.


Di luar negeri aja harga rokok mahal lho! Mau lihat perbandingannya?

Kompasiana.com

Meski saya pribadi lebih menginginkan rokok dicabut saja ijin edarnya. Dampaknya kan mirip ganja, malah bersifat jangka panjang. Toh sebagian ulama mengharamkan. Saya setuju dengan Pak Burhan (Penanya), hilangkan saja pabrik rokoknya di Indonesia! "Ntar gimana penghasilan pelinting rokok? Kan kasihan.." Duh Bu, kalau mudharatnya lebih besar kasihan mana, yang bikin atau yang memakai?

"PR Indonesia sebetulnya adalah mengurangi ketergantungan kita pada industri yang memang sudah sunset. Jadi kalau misalnya dilihat kayak berapa sih orang yang kerja jadi pelinting rokok? Sekarang cuma 0,16% dari seluruh pekerja. Lebih banyak makanan, sektor transportasi dan lain sebagainya. Dan kalau dilihat pendapatan orang-orang selama ini jadi pelinting rokok, cuma 40% yang dari rokok. Jadi pendapatannya memang sudah turun, mereka juga cuma kerja 2 kali seminggu. Jadi memang sudah sunset." Jelas Mba Yurdhina Meilissa (Planing and Policy Specialist Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI)).

Nah kan.. masih ada sektor lainnya yang bisa dijajal. Rejeki nggak akan kemana. So, Buibu bakal mendukung "Rokok Harus Mahal" kan? silakan, tandatangani petisinya di Change.org/rokokharusmahal. Biar Pak Presiden dan Bu MenKes bisa memutuskan segera, rokok harus mahal. Semoga dengan gerakan ini akan lebih banyak jiwa-jiwa yang terselamatkan.

#KBR #Radio #RadioIndonesia #Talkshow #Rokok #Rokok50Ribu #Melawanrokok #RokokMemiskinkan #Kemiskinan #JKN


Sumber tulisan:
- Talkshow dengan Tema "Selamatkan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) & Kelompok Miskin, Rokok Harus Mahal.
- Davidson dkk., 2006. Psikologi Abnormal Edisi ke-9. Jakarta: Raja Grafindo

2 comments :

  1. Saya setuju knp rokok harus mahal, karna banyak efek negatif yg akan ditimbulkan. Perokok pasif justru lebih beresiko, dan anak2 juga menjadi terancam kesehatannya jika lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggalnya perokok.

    ReplyDelete
  2. Bener banget Uni, semoga orang Indonesia semakin sadar ya 🤗

    ReplyDelete

Jazakumullah atas komentarnya ^_^